Mengenal Kopi Gayo Yang Telah Mendunia

RADAR ACEH | Gayo Coffee atau kopi gayo merupakan kopi level dunia, meski branding-nya telah dimanfaatkan negara-negara luar. Di kancah kopi internasional, orang-orang selalu membicarakan kopi Gayo setelah kopi Brasil. Tak heran jika negeri yang dujuluki dengan nama "Negeri Malem Dewa" ini diidentikkan dengan aroma kopi,Senin (29/08).

Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadikan kopi sebagai satu satunya hasil andalan bagi pemasukan daerah yang utama dibanding hasil pertanian lainnya. Negeri berbukit dengan ketinggian hingga 2.600 meter dari permukaan laut, menjadikan kedua daerah itu sebagai penghasil kopi nomor satu di Indonesia, terutama jenis arabika. 

Aceh Tengah dan Bener Meriah bisa diklaim sebagai kawasan perkebunan kopi terbesar di Asia Tenggara. Pohon-pohon kopi menjadi panorama paling berkesan di Negeri Gayo. Nyaris tak ada tanah yang dibiarkan menganggur oleh masyarakat setempat tanpa kopi. Begitu juga di halaman halaman rumah, terlihat hamparan kopi sedang dijemur.

Aroma kopi giling menebar aroma khas , alami, kental, murni, hingga bisa melenakan syaraf sesaat setelah meminumnya. Kopi Gayo sudah ditanam jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sebelum zaman pendudukan Belanda. Tinggi kopi hanya dibatasi sekitar satu meter karena tajuk-tajuknya selalu dipangkas agar tidak tinggi.

Menariknya, meski terkesan dibonsaikan, buah kopi justru, lebih besar dan tahan terhadap hama. Para petani Gayo juga tak perlu repot memetik buahnya karena semua bisa terjangkau tangan. Uniknya lagi dalam melindungi tanaman kopi dari hama, di sela-selanya ditanam berbagai macam tumbuhan lain seperti pohon petai atau lamtoro, jeruk keprok, dan alpukat.

Disebutkan, buah alpukat dari dataran tinggi gayo sebagai alpukat dengan kualitas terbaik di Indonesia. Jeruk keproknya juga menebarkan aroma wangi yang khas. Masyarakat Gayo memanen kopinya lima hingga enam kali dalam setahun. Sampai saat ini, seluruh perkebunan kopi masih merupakan milik masyarakat, sehingga mereka punya hak penuh atas penjualannya.

Umumnya kopi-kopi ini mereka jual ke penampung yang memang sudah menunggu. Selanjutnya penampung akan menjual ke pabrik-pabrik kopi yang ada di Kota Takengon atau Redelong, Bener Meriah. Ada juga segelintir warga yang mengolah kopinya untuk kebutuhan sendiri atau dijual ke pasar dengan cara tradisional. Saat panen tiba, buah-buah kopi yang dipetik biasanya dimasukkan ke dalam kantongan kain yang tergantung dileher bagian depan.

Lalu kopi hasil petikan itu dimasukkan ke dalam goni plastik untuk selanjutnya dibawa ke tempat penyimpanan. Langkah selanjutnya adalah pengupasan kulit. Proses ini biasanya dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang memang tersedia setiap rumah. Selesai dikupas, buah kopi dimasukkan ke bak air selama semalam. Ini dilakukan untuk menciptakan aroma yang khas.

Setelah terendam semalam, biji kopi dikeluarkan dan dijemur hingga kering. Selesai dijemur, lalu dikupas untuk selanjutnya dijemur kembali sambil disortir. Sortir dilakukan untuk mendapatkan biji kopi pilihan. Saat ini, banyak penduduk yang sudah menggunakan mesin. Namun di beberapa rumah tangga, kegiatan sortir masih dilakukan dengan menggunakan tampah.

Selanjutnya kopi digoreng dalam sebuah kuali besar diatas suhu 150 derajat. Setelah rapuh, lalu dihaluskan untuk dijadikan bubuk kopi. Setelah selesai semua kemudian dipacking dalam ukuran-ukuran tertentu. Bagi penduduk Gayo, minum kopi bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Hampir di semua tempat, orang-orang terlihat duduk dan berkumpul sambil minum kopi.

Bagi masyarakat Gayo  minum kopi hingga beberapa kali sehari sebagai "tameng" untuk menghalau cuaca dingin. Minum kopi di Gayo tidak pakai waktu, suka-suka. Kapan dan di mana saja kita bisa menikmati kopi. Bahkan ada yang menjadikan sebagai minuman setelah makan nasi. Inilah sekelumit mengenai kopi gayo yang tidak ada duanya di Nusantara bahkan Asia. (Usman Cut Raja)

Tag : NEWS
Back To Top