RADARACEH.COM | ACEH TIMUR- Kemerdekaan Indonesia sudah mencapai 71 tahun lamanya, namun hal itu belum dirasakan indahnya kemerdekaan oleh warga Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.
Pasalnya,Puluhan tahun sudah masyarakat Desa Sijudo masih mengunakan Getek ( sejenis perahu yang terbuat dari kayu dengan di ikat tali untuk menyebrangi sungai_red) atau sampan bambu untuk menyeberang sungai untuk menuju ke Pusat pemerintahan Kecamatan Pante Bidari, kalaupun tidak mengebrang dengan menggunakan getek masyarakat Sijudo harus melalui hutan perantara dengan jarak tempuh hingg 50 kilometer baru sampai ke Pusat Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.
Bukan saja, untuk keperluan administrasi mengurus surat ke kantor kecamatan, akan tetapi warga Sijudo juga masih menggunakan getek untuk mengangkut hasil alam dan berbelanja ke Kota Pante Bidari, bahkan parahnya setiap pagi anak-anak sekolah di Desa tersebut harus menyebrangi sungai untuk bersekolah ke Desa Alur Merah, Kecamatan setempat.
Alam Syah Keuchiek Desa Sijudo mengungkapkan, warganya setiap hari harus menggunakan getek untuk mengebrang sungai menuju pusat pemerintahan dengan berbagai keperluan kebutuhan sehari-hari, bahkan warga harus mengeluarkan biaya 25 ribu sekali menyebrang sungai.
Desa Sijudo merupakan sebuah Desa yang terisolir di Kecamatan Pante Bidari, dengan memiliki 5 Dusun yakni, Dusun Sijudo, Rantoe Panjang, Bidari, Tangjung Singkil, dengan memiliki 700 jiwa dengan jumlah KK ( Kepala Keluarga) 260 kk.
Hingga saat ini pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan Provinsi Aceh belum menyentuh bantuan terhadap Desa terisolir tersebut, bahkan pembangunan jembatan yang di bangun untuk melintasi Desa Sijudo dan Tanjung Pusaka, Aceh Utara juga terbengkalai sejak Dua tahun silam.
Kini Desa tersebut bangaikan Desa di masa penjajahan belanda tempo Dulu ketika Indonesia masih belum merdeka, namun kemerdekaan itu juga belum di rasakan Desa Sijudo, Kecamatan Pantee Bidari, (RI).
