Al Quran Juga Mengajarkan Saint dan Teknologi

Oleh : Usman Cut Raja

Saat ini,Sains dan Teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat bagi kehidupan manusia. Dalam setiap waktu para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi simbol kemajuan pada abad ke 20 ini,bahkan suatu bangsa dan negara dapat dikatakan tertinggal apabila tidak mengikuti perkembangan sains dan teknologi.

Di era serba dan modern sesungguhnya agama Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan menjadi lebih baik, justru Islam sangat mendukung umatnya untuk berkarya dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi.

Dalam ajaran Islam sains dan teknologi juga termasuk perintah Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang terkandung dalam Al Qur'an memerintahkan manusia untuk mempelajari apa apa yang dilangit dan dibumi untuk mengolah dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Bahkan wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW juga menunjukkan bagaimanakah pandangan agama Islam tentang sains dan teknologi,yaitu

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-Isra: 1-5)

Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS. Yunus: 101)

Ayat-ayat di atas adalah sebuah amanah yang Allah berikan kepada hambanya untuk terus menggali dan memperhatikan apapun yang ada di alam semesta ini.Permasalahan yang ada saat ini adalah seringkali manusia mengkorelasikan antara sains dan teknologi ilmiah dengan ajaran2 Islam yang tertera dalam Al Qur'an.

Sangat banyak kejadian-kejadian yang di dalam Al Qur'an tidak bisa dijelaskan secara sains ilmiah,artinya kejadian tersebut benar-benar murni kekuasaan Allah dan di luar batas nalar manusia. Misalnya mukjizat yang diberikan Allah kepada nabi Musa dengan membelah lautan, mukjizat kepada Nabi Muhammad yaitu mampu membelah bulan dan lainnya.

Manusia saat ini seringkali meneliti kejadian-kejadian tersebut dan tidak pernah menemukan jawaban ilmiahnya.Yang paling ekstrim adalah ada cukup banyak ahli-ahli filsafat yang menjadi atheis karena mereka meneliti dimanakah Allah itu berada, seperti apakah dan apakah Allah itu benar-benar ada. selain itu mereka meneliti kenapa sholat itu harus 5 waktu dalam 1 hari.

Sungguh ironi ketika seorang manusia mempelajari ilmu filsafat akan tetapi mereka tidak memiliki landasan iman dan aqidah yang kuat sehingga mereka lebih mempercayai apa yang mereka teliti daripada Al Qur'an yang menjadi pedoman hidup seluruh umat manusia. Oleh karena itu seharusnya sebelum manusia mengaplikasikan ilmu dan teknologi yang mereka miliki mereka harus memiliki landasan yang berupa ilmu syar'i yang akan mengarahkan bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk Allah SWT.

Dalam peradaban Islam pernah memiliki khazanah ilmu yang sangat luas dan menghasilkan para ilmuwan yang begitu luar biasa. Ilmuwan-ilmuwan ini ternyata jika kita baca, mempunyai keahlian dalam berbagai bidang. Sebut saja Ibnu Sina. Dalam umurnya yang sangat muda, dia telah berhasil menguasai berbagai ilmu kedokteran. Selain Ibnu Sina, al-Ghazali juga bisa dibilang ilmuwan yang refresentatif untuk kita sebut di sini.

Al Ghazali adalah teolog, filosof, dan sufi. Selain itu, dia juga terkenal sebagai orang yang menganjurkan ijtihad kepada orang yang mampu melakukan itu. Dia juga ahli fiqih. Al-Mushtasfa adalah bukti keahliannya dalam bidang ushul fiqih. Tidak hanya itu, Al-Ghazali juga ternyata mempunyai paradigma yang begitu modern. Dia pernah mempunyai proyek untuk menggabungkan, tidak mendikotomi ilmu agama dan ilmu umum.

Bagi Ghazali, kedua jenis ilmu tersebut sama-sama wajib dipelajari oleh umat Islam. Sains dan teknologi adalah simbol kemoderenan suatu umat. Akan tetapi, tidak hanya karena modern, kemudian kita mengabaikan agama sebagaimana yang terjadi dalam budaya Barat. Karena sains dan teknologi tidak akan pernah bertentangan dengan ajaran Islam yang relevan di setiap zaman.

Harapan Kepada  Dayah Di Aceh

Dalam hubungan ini eksistensi  dayah di Aceh dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya memiliki komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang handal, kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan), dan tangan (keterampilan), merupakan modal utama untuk membentuk pribadi santri yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di lingkungan masyarakat, maka dayah harus berani tampil dan mengembangkan dirinya sebagai pusat pendidikan unggulan. Pesantren tidak hanya mendidik santri agar memiliki ketangguhan jiwa, jalan hidup yang lurus, budi pekerti yang mulia, tetapi juga dibekali dengan berbagai disiplin ilmu.

Untuk mencapai tujuan di atas, para santri harus dibekali nilai-nilai keislaman yang terintegrasi dengan ilmu-ilmu sains dan teknologi. Pembekalan ilmu-ilmu tentang sains dan teknologi dapat ditempuh dengan mempelajari tradisi ilmu pengetahuan agama dan penggalian dari teknologi ketrampilan umum dengan menjadikan al-Qur'an dan al-Sunnah sebagai sumber inspirasi dan rujukan awal.

Karena, tradisi keilmuan dan kebudayaan Islam sangat kaya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sayyid Kuthb; "Yang benar, bahwasannya agama (Islam) bukan mengganti ilmu dan kebudayaan, bahkan bukan pula musuh ilmu dan kebudayaan. Agama Islam merupakan bingkai ilmu dan kebudayaan poros/sumbu untuk ilmu kebudayaan, begitu pula sebagai metode ilmu dan kebudayaan dan membatasi bingkai dan poros yang mampu memberi hukum (peraturan) bagi segala masalah kehidupan".

Mencermati karakteristik umat Islam serta kecenderungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini dan mendatang, disertai dengan perkembangan kebudayaan, maka pilihan format dayah  harus lebih menekankan terhadap sains dan teknologi.

Dayah sesungguhnya menyimpan kekuatan yang sangat luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberi informasi yang berharga dalam mempersiapkan kebutuhan yang inti untuk menghadapi masa depan. Oleh sebab itu dayah harus mampu merespon dan tanggap atas semua itu.

Syukur, beberapa pasantren di tanah air termasuk di Aceh telah ikut dan mulai mempelajari sains dan teknologi. Penyiapan sumber daya manusia kearah tersebut melalui  dayah sudah menjadi kebutuhan dan perlu dilakukan secara sinergik melalui pendekatan personal, komunal, dan institusional.

Selama ini, dayah menghadapi tantangan yang semakin besar, kompleks, dan mendesak. Tantangan ini menyebabkan terjadinya pergeseran nilai-nilai di dayah, baik nilai yang menyangkut sumber belajar maupun nilai yang menyangkut pengelolaan pendidikan.

Kerja kependidikan akan semakin didominasi oleh kegiatan pengembangan sains dan teknologi. Hal demikian akan memaksa dayah untuk mencari bentuk baru yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi tetap dalam kandungan iman dan takwa kepada Allah SWT.

Sama halnya dengan imtaq dan iptek, kewirausahaan atau entrepreneurship juga penting karena memiliki korelasi positif dengan kemajuan suatu negara. Semakin banyak orang yang berjiwa dan bersemangat entrepreneur, semakin besar peluang negara yang bersangkutan menjadi negara maju.

Potensi besar  dayah di Aceh tidak hanya dari aspek sejarahnya sebagai lembaga pendidikan tertua dan memiliki ciri khas. Dari tahun ke tahun jumlah pondok dayahpun terus bertambah. Pendidikan di dayah umumnya lebih memprioritaskan. materi tentang agama dan akhlak namun minus keahlian baik hardskill maupun softskill.

Akibatnya, lulusan dayah yang setiap tahun jumlahnya cukup signifikan seringkali menjadi gagap saat terjun ke masyarakat.  Mudah mudahan dayah di Aceh nantinya juga mampu mencetak ilmuan bidang sains dan teknologi

Tag : NEWS
Back To Top