Oleh : Arif Rahman
Gerakan Komunis saat ini tergantung pada situasi, dimana pada situasi tertentu PKI akan muncul dan saat ini PKI tidak pernah menyatakan kalah tetapi mereka menyatakan tujuan kita belum tercapai.
Harus diakui tanda-tanda awal kebangkitan komunis di Indonesia menurut berbagai kalangan adalah adanya rumors bahwa saat ini banyak kader-kader PKI yang sudah masuk dalam parlemen harus diwaspadai dan tujuan mereka saat ini akan menghapus Tap MPRS No. 13 tahun 1966. Diakui atau tidak diakui bahwa fenomena ini menjadi kenyataan setelah era reformasi yang kebablasan telah menghapus adanya litsus yang di era Orba sangat ampuh menangkal persemaian komunisme.
Untuk menghidupkan pahamnya, PKI saat ini telah melakukan propaganda-propaganda diantaranya melalui pemutaran film Senyap, pemunculan gambar" maupun lambang PKI pada buku pelajaran sekolah, dan terbitnya buku sejarah kiri untuk pemula pada bulan Oktober 2015. Bahkan, bangkitnya komunis di Indonesia juga patut dicurigai sebagai salah satu bahan proxy war untuk merusak Indonesia buktinya film Senyap dan lain-lain yang berbicara tentang komunisme memenangkan festival film di tingkat internasional. Gejala ini harus diamati bersama oleh anak muda Indonesia.
Bagaimanapun juga, ideologi komunis adalah kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya dan bagi penganutnya dengan keyakinan dan kesadaran maka kafirlah serta tiada sah menikah dan menikahkan umat Islam, tiada pusaka mempustakai dan haram hukumnya jenasahnya disholati secara Islam.
Terkait dengan komunisme yang notabene tidak mengakui eksistensi Tuhan, menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kemenangan bahkan mendukung aksi teroris ataupun separatis adalah cara-cara komunisme agar mudah diterima berbagai kelompok masyarakat, terutama mereka yang berpikiran sekuler, liberal dan pemahaman agamnya sangat minim. Oleh karena jelas alasan Islam menolak komunisme karena berbeda dengan ajaran Islam yang rahmatan lil alamiin.
Oleh karena itu, ancaman akan kebangkitan komunis di Indonesia bukan hal yang sepele, sehingga harus dilakukan perlawanan atau langkah pencegahan yang yang intensif tanpa mengenal lelah melalui tabligh akbar, diskusi membahas penolakan komunisme, membuat regulasi yang mengerangkeng suporter terorisme bangkit kembali, serta pemerintah jangan sekali-kali mengakui adanya lokasi kuburan massal yang konon adalah kuburan korban kelompok keluarga eks PKI dan kawan-kawannya yang beberapa lokasi kuburannya seperti konon di Semarang, Brebes serta di Bali diurusi oleh Pemda setempat dengan membersihkan dan memberikan patok di lokasi kuburan tersebut, dimana hal ini merupakan langkah yang salah.
Menurut salah seorang ustadz yang menjadi penceramah dalam acara tabligh akbar Mewaspadai Bangkitnya Komunisme di Masjid Ramadhan Griya Shanta, Kota Malang, Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Forum Ukhuwah Antar Takmir Masjid se Malang Raya, Forum Ukhuwah Pemuda Islamiyah dan Lembaga Takmir Masjid Ramadhan Kota Malang tanggal 11 Maret 2017, saat ini kita harus mewaspadai kemungkinan terjadinya makar baru kaum komunis
Menurut berbagai sumber yang diperoleh penulis, ada beberapa fakta yang harus kita waspadai saat ini adalah sebagai berikut munculnya partai politik dan LSM yang jelas-jelas mengangkat simboI-simbol gerakan rakyat berhaluan kiri; Krisis multidimensi saat ini terjadi merupakan kondisi kondusif yang menyuburkan paham komunis; Konflik horizontal yang akhir-akhir ini terjadi sebagai imbas dari konflik elit politik muncul memberikan peluang bagi mereka untuk menyusup dan melakukan makar; Banyaknya para tokoh PKI yang selama ini bersembunyi diluar negeri pulang ke tanah air dan sering melakukan gerakan "pembersihan diri" bahkan ada yang berupaya membuat film dokumenter yang dilakukan salah satunya eks PKI yang tinggal di Swedia berlokasi di salah satu kabupaten di Sumatera Barat, walaupun pembuatan film tersebut gagal karena penolakan masyarakat.
Disamping itu, adanya upaya untuk memanipulasi sejarah G3OS/PKI dengan menggunakan berbagai forum media massa, media sosial dan berbagai cara lainnya termasuk diskusi-diskusi membahas dan mendukung paham komunis di beberapa universitas terkemuka di Indonesia.
Apa itu Komunisme?
Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848. Teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.
Sumber : Google
Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi.
Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.
Kesimpulan.
Pemerintah bersama seluruh rakyat Indonesia perlu menyakini bahwa saat ini PKI sudah bangkit dan secara sistematis mengarah pada formulasi kebangkitan PKI. Menyikapi hal ini, maka tanda-tanda kebangkitan PKI harus dilakukan perlawanan baik secara konstitusional struktur dan kultural.
Disamping itu, perlu adanya solusi yang masif, sistematik berstruktur dan berkelanjutan untuk menangkal bangkitnya PKI serta membentuk satuan aksi untuk menangkal kebangkitan PKI dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Kepada Pemerintah RI, masyarakat Indonesia selalu berharap agar Presiden Jokowi beserta jajarannya agar bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif asing yang beridiologi komunisme, bahkan kalau perlu memperkuat dan memperpanjang status dektrit yang pernah dikeluarkan dimana dekrit Presiden tersebut menyatakan PKI dan mantel organisasinya sebagai partai terlarang di Indonesia.
Penulis adalah peneliti di LSISI, Jakarta. Tinggal di Lampung Timur.
