Klengteng 1880 Masih Berdiri Kokoh di Sudut Kota Idi Rayeuk

RADARACEH.COM | ACEH TIMUR - Enik maupun Agama lain bisa hidup berdampingan dengan damai di Aceh yang diketahui mayoritas beragama Islam, seperti di Aceh Timur, bukti nyata sebuah Klengteng tertua masih berdiri kokoh di sudut kota Idi Rayeuk. Rabu (05/07/17).

Menurut catatan sejarah yang dituliskan dalam buku "Idi Lon Sayang" menjelaskan, Vihara tua yang bernama "Murni Sakti" di bangun pada tahun 1880, masa kerajaan Tuanku Chik Bin Guci dan
Vihara Murni Sakti atau lebih dikenal Tepekong Chin Sui Co Su tercatat vihara tertua di Asia Tenggara. 
 
Pada masa kerajaan  Tuanku Chik Bin Guci Idi Rayeuk merupakan salah satu kawasan perdagangan di kawasan pantai Timur Aceh. Ketika itu Idi Rayeuk banyak disinggahi para pedagang dari berbagai belahan dunia untuk memburu hasil bumi, salah satunya eknis Tionghoa. 

Kemudian pada tahun 1880-an silam,  Kapten Lem warga Tionghoa datang dari Negeri Jiran Malaysia dari daerah Peneng, singgah di Kota Idi Rayeuk melakukan perdagangan hasil bumi dan ikan laut lalu di bawa ke Malaysia dan Singapura. 

Warga Tionghoa awalnya menetap di Malaysia dan Singapura setelah ada usahanya di Idi Rayeuk, maka mereka memilih menetap di Idi Rayeuk di bawah kerajaan Tuanku Chik Bin Guci. 

Menurut sesepuh etnis Tionghoa yang tinggal di Idi Rayeuk, pada masa itu, selang beberapa waktu para Saudagar eknis Tionghoa datang untuk menghadap Raja Idi Tuanku Chik Bin Guci. Untuk memohon diizinkan mendirikan Vihara sebagai tempat beribadah mereka hal ini dikarenakan sudah banyak warga Tionghoa menetap di Idi Rayeuk. 

Pada saat itu Raja mengizinkan dengan satu syarat yakni Raja meminta untuk dibangunkan Rumah Besi untuk kerajaan. Hal ini disanggupi, maka berdirilah sebuah Vihara Murni Sakti atau Tepekong Chin Sui Co Su di Idi Rayeuk. 

Meskipun saat ini eknis Tionghoa tersisa beberapa kepala keluarga yang beragama Budha, namun kami bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Idi Rayeuk yang Mayoritas beragama Islam. Ugkap Johan Ta, kealhiran Idi Rayeuk eknis Tionghoa. 

Dirinya juga sangat kagum kepada warga Idi Rayeuk terhadap teleransinya bukti nyata dari masa konflik dulu sampai sekarang tidak ada gangguan terhadap Vihara kami, serta kami bisa berbaur baik dengan masyarakat Idi Rayeuk. 

Ia melanjutkan, kami sejak kakek buyut sudah disini,  kampung halaman kami ya Idi Rayeuk, kami sangat berterima Kasih pada penduduk Idi Rayeuk telah menerima kami sebagai layaknya penduduk lokal tanpa ada diskriminasi sedekitpun malah kami di jaga di lindungi sejak jaman konflik dulu sampai sekarang. Ungkap Johan Ta menutup pembicaraan. (RI)
Tag : NEWS
Back To Top