Kuala Bungkah Diminta Segera Dibangun

Aceh Utara | Ratusan nelayan di dua kecamatan di Aceh Utara, Muara Batu dan Dewantara kerap menjerit akibat tidak bisa melaut karena kuala Bungkah  sering tertimbun pasir. Pemkab Aceh Utara dinilai seperti menutup mata terhadap derita yang dialami kaum nelayan di kawasan tersebut. Pasalnya sudah puluhan tahun dijanjikan kuala ini akan dibangun permanen namun hingga sekarang belum ada realisasinya.

Sejumlah nelayan kepada Media ini, Senin (14/8) memperlihatkan boat boat mareka yang tertambat disisi kuala karena tidak bisa melaut.

"Inilah pengalaman kami disini ketika muara tertimbun pasir, boat boat tidak bisa keluar atau masuk kuala karena terhalang pasir yang menumpuk di mulut kuala. Kondisi seperi ini sudah sering terjadi", keluh salah seorang nelayan saat sedang menambat boatnya.

Dia menambahkan, kuala Bungkah jadinya begini akibat diterjang tsunami tahun 2004 lalu hingga sekarang  belum normal. Perbaikan yang dilakukan sebatas pengerokan bilamana terjadi penumpukan pasir dimulut kuala.

Selain kuala, sungai atau krueng Ajo juga mengalami pendangkalan yang menyebabkan aktivitas bongkar muat hasil tangkapan nelayan menjadi lumpuh.

"Kita sangat mengharapkan adanya perhatian pihak Pemkab untuk menggeruk sungai lebih dalam lagi dan membuka muara yang tertutup pasir tersebut dengan membangun tanggul yang permanen, agar aktivitas nelayan lancar," harapnya.

Salah seorang tokoh masyarakat Gampong Lancang Barat Kecamatan Dewantara yang bersebelahan dengan kuala Bungkah, M Kasyah Hanafiah membenarkan kalau kuala dan muara sungai kerap tertimbun pasir, hingga mengakibatkan nelayan sulit ke laut. "Setiap pergantian musim, muara krueng tersebut selalu tertimbun pasir", ungkapnya.

"Usulan pembangunan tanggul muara dan pemecah ombak sudah kita lakukan sejak Bupati Aceh Utara dijabat Bapak Ilyas Pase, namun hingga sudah beberapa kali pergantian bupati pembangunan nya belum terealisasi," ujar M Kasyah yang didampingi Panglima Laot dan sejumlah nelayan.

Sementara salah seorang Anggota DPRK Aceh Utara Sofyan Hanafiah yang diminta tanggapannya menyebutkan, dalam masalah ini Bupati harusnya jangan diam. APBK Aceh Utara begitu besar namun pembangunan untuk sektor kelautan dan Perikanan minim. Hampir semua wilayah pesisir Aceh Utara masih tertinggal.

"Saya ikut prihatin terhadap nasib kaum nelayan terutama nelayan di dua wilayah itu yang kebetulan masuk wilayah pemilihan saya, Muara Batu dan Dewantara yang sudah begitu lama menderita akibat kuala Bungkah belum kunjung dibangun tanggul dan pemecah ombak serta pengerukan krueng Ajo  lebih dalam lagi", ucap Sofyan.

Dijelaskan pula krueng Ajo yang bermuara ke kuala Bungkah itu sepatutnya mendapat perhatian serius Pemda Aceh Utara untuk menghindari terjadi banjir.

Dalam pengalaman banjir krueng Ajo lanjutnya tidak saja persawahan rakyat juga pemukiman penduduk ikut tertendam. "Dalam setiap  kejadian meluapnya krueng Ajo tentu kerugian yang dialami penduduk", paparnya. (UCR)

Tag : NEWS
Back To Top