Aceh Utara --- Aset PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) Krueng Geukueh, Aceh Utara baik pabrik,perkantoran maupun perumahan karyawan kini sepertinya tidak ada yang urus lagi. Kondisi ini dapat terlihat misalnya, disekitar iareal pabrik hutan semak belukar telah menutupi peralatan didalamnya. Begitu juga terhadap perkantoran banyak sudah tinggal kerangka karena sudah hancur.
Termasuk Kantor Pusat yang begitu megah dan mewah sudah kosong karena semua peralatan sudah hilang atau dijarah. Begitu juga terhadap kompleks perumahan karyawan yang didalamnya juga ada perkantoran, Guest House, Klinik, Sekolah, masjid, gedung olah raga dan Dormitory. Kini yang tinggal dan masih berfungsi cuma perumahan,sekolah dan masjid.
Selainnnya semua sudah hancur dan tinggal kerangka. "Kami miris dan sedih melihatnya,kenapa Pemerintah membiarkan aset PT AAF yang begitu megah,mewah dan canggih harus hancur. " Dari apa yang kami saksikan sekarang mungkin sebentar lagi perusahaan patungan 5 negara Asean ini akan tinggal kenangan seperti yang dialami pabrik gula Cot Girek", papar sejumlah warga lingkungan. Minggu kemarin
Lebih memiriskan lagi komentar beberapa warga mantan pemilik tanah yang merelakan tanahnya dibebaskan untuk pembangunan industri pabrik pupuk PT Asean tersebut.
Menurut mareka sebelum pembebasan tanah dilakukan, Pemerintah melalui Tim Pembebasan Tanah menjanjikan akan memproritaskan tenaga kerja dari warga yang terkena gusuran juga akan disediakan lahan pengganti sekalian rumah yang disebut resatlement.
"Resetlemen memang disediakan.Tapi sekarang entah masih ada, kami tidak tahu lagi karena saat mau dipindahkan banyak yang tidak mau.",kisahnya.
Dijelaskan, diantara yang tidak mau pindah mareka beralasan,masak nelayan dipindah ke perbukitan yaitu Cot Mambong, kecamatan Nisam yang jarak dengan pesisir pantai tempat mareka tinggal turun temurun sangat jauh sekitar 20 km.
Akibat tidak mau pindah ke resetlement jadilah masyarakat gusuran tersebut terpencar mencari lokasi lain yang dekat dengan pesisir pantai. "Tidak apa, kami rela demi pembangunan industri, biar masyarakat disekitarnya mendapat pekerjaan",ujarnya.
Sedih dan menyedihkan lanjutnya, ketika sekarang pabrik yang dibangun itu sudah tutup bahkan asetnya mau dijual pula. "Apa yang akan dipetik oleh generasi penerus atas pengorbanan kami, akankah mareka terus menganggur tidak ada lapangan kerja",tanyanya.
Dari berbagai data yang terhimpun diketahui, PT AAF setelah tidak berproduksi lagi akhir tahun 2004 lalu dilikuidasi pada 2006. Dan pada 2010 Tim likuidator merencakan mau menjual seluruh aset PT AAF ke sebuah perusahaan dari Cina. Namun rencana ini ditantang oleh sejumlah warga melalui Masyarakat Peduli Industri (MPI) Aceh Utara.
Badruddin SE, Sekretaris MPI saat dihubungi Radar Aceh menyebutkan, MPI dibentuk melalui kesepakatan bersama antara Tokoh Masyarakat,Kepala Mukim, Kepala Desa lingkungan dan masyarakat tergusur.
"Kami bersafari ke Jakarta pada Oktober 2010 menemui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan dan RB) Azwar Abubakar, DPR RI hingga KPK untuk meminta kepada Pemerintah agar AAF dihidupkan kembali dan tidak dijual", sebutnya.
Ketika itu, lanjut Badruddin memang timbul gugatan dari perusahaan yang ingin membeli aset AAF tapi akhirnya melalui Keputusan Mahkamah Agung sekitar Desember 2014 seluruh aset PT AAF jatuh ke tangan Pemerintah Indonesia. "Kami sempat membuat acara syukuran atas keputusan MA tersebut yang juga ikut dihadiri sejumlah Anggota DPRI asal Aceh dan PJ Gubernur Aceh ketika itu,Tarmizi Karim",papar Badruddin.
Keterangan lain yang diperoleh Radar Aceh mengatakan, PT Pupuk Indonesia Company (PIC) menunjuk PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) untuk melakukan pengawasan sekalian membuat studi dan rencana bagaiman PT AAF bisa dihidupkan kembali.
Adalah Eko Sunarko, Direktur Utama PT PIM ketika itu menjadi motor penggerak dan memberanikan diri untuk menandatangani MoU (perjanjian kerjasama) dengan investor asal negara Yordania dalam upaya mengoperasikan kembali PT AAF sekalian melakukan peninjauan keareal pabrik AAF yang didampingi PT Pusri .
Menurutnya, sikap berani menandatangani perjanjian kerjasama dengan investor dari Yordania tersebut adalah, bentuk komitmennya untuk menghidupkan kembali industri raksasa di Aceh.
Hal ini dibuktikannya dengan terus mempertahankan PT.PIM yang dikomandoinya saat itu, meski harus menghadapi berbagai kesulitan karena tidak stabilnya harga gas yang merupakan bahan baku utama pabrik pupuk.
"Saya sekarang getar-getir bila AAF tidak jadi diserahkan ke PIM, bisa mati saya dituntut pihak investor," kata Eko kepada Radar Aceh usai melaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka menyambut HUT PIM ke 31.
Ia menambahkan, keberadaan PIM harus terus dipertahankan operasionalnya dalam menghasilkan pupuk. Hal ini untuk meyakinkan investor agar berani masuk ke Aceh.
"Hasil alam Aceh sangat berlimpah, tetapi belum bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Ini perlu investor," imbuhnya.
Kaitan terhadap gagasan yang telah dirintis Eko Sunarko, Dirut PT PIM sekarang Achmad Fadhiel kepada sejumlah awak media juga pernah menyebut, PT PIM sedang mengakuisisi pabrik pupuk PT AAF. Hal ini dikatakan Achmad Fadhiel saat pengantungan akhir pupuk PIM 2016.
"Kami harapkan proses akuisisi ini selesai secepatnya. Kami targetkan April 2017 proses akuisisi sudah selesai dan sudah bisa didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM soal kepemilikan saham bahwa AAF telah menjadi bagian dari PIM," ucap Fadhiel.
Dijelaskan, untuk kepemilikan saham negara-negara Asean itu akan dikonversikan menjadi saham dalam PT PIM yang berada dalam holding Pupuk Indonesia.
Langkah akuisisi PT AAF disebut sebut juga didukung oleh Pemerintah Aceh yang akan dipadukan dalam Konsersium Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe. Yaitu, Pemerintah Aceh bersama Pertamina, PT PIM, Pelindo 1 dan PT KKA.
Banyak yang bertanya, apakah akuisisi PT AAF sudah berjalan, Radar Aceh belum mendapat konfirmasi dari Direksi PT PIM.
Namun berita terbaru lainnya yang diperoleh dari sumber yang layak dipercayai menyebutkan, karena statusnya masih dibawah Tim Likuidator, pihak Tim Likuidator mewacanakan untuk menjual kembali aset PT AAF. "Kami sudah kirim surat pemberitahuan terutama kepada semua penghuni rumah karyawan untuk segera pindah",sebutnya
Dijelaskan, pilihan Tim Likuidator untuk menjualnya agar aset yang masih tersisa tidak hancur semua. Namun tidak dijelaskan aset apa saja yang mau dijual dan kepada siapa akan dijual. Sementara tanggapan dari beberapa penghuni rumah karyawan PT AAF itu. Ada yang mengaku sudah membeli atau menyewa dan banyak juga yang mengaku tinggal sementara. (Usman Cut Raja)
