Duta Mahasiswa Aceh di Jogjakarta Terpilih Ikut Program SE di Malaysia

RADARACEH.COM | KUALA LUMPUR - Spirit negeri Jiran untuk mengukuhkan entitas bahasa Melayu sebagai bagian kekayaan peradaban di Asia Tenggara. Musyawarah penyelarasan bahasa  mengundang semua tokoh ahli bahasa dari negeri bagian dan dari seluruh ahli perguruan tinggi yang ada. 

Kongres membentuk standar bahasa Melayu dibuka langsung oleh Perdana Menteri Malaysia di Institut Pendidikan Guru (IPG) Kampus Bahasa Melayu Kuala Lumpur. 

Rangakaian acara kongres diadakan selama tiga  hari tersebut, dari 31 Oktober sampai 2 November  2017, bertujuan  untuk mempersentasikan dan menyepakati bahasa standar yang digunakan di Melayu Malaysia. 

Para pendatang tersebut diarahkan untuk dapat berdialetika menggunakan bahasa resmi bahasa Melayu Malaysia. Dikarenakan kemajemukan suku bangsa yang ada, Malaysia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dalam berinteraksi. Namun lembaga pemerintah dan lembaga  pendidikan tetap menjadi security streatment dalam menjaga kelestarian bahasa melayu.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Ridho Agung salah satu Duta Mahasiswa Aceh di Yogyakarta yang sedang mengikuti program Student Exchange (SE),  melalui rilisnya kepada Radaraceh.com pada Jum'at (03/11/2017).

Ridho merupakan salah satu peserta mahasiswa semerter akhir yang terpilih untuk mengikuti SE perwakilan dari jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Menurut Rodho, dirinya selama 4 hari di Malaysia berkesempatan mengunjungi 3 kampus ternama di Malaysia diantaranya adalah University of Malaya (UM), Institut Pendidikan Guru (IPG) Bahasa Melayu dan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).  Ujarnya

University Of Malaya (UM) menjadi yang pertama dikunjungi oleh peserta SE. UM merupakan perguruan tinggi yang tertua di Malaysia. Kampus yang berdiri pada tahun 1963 ini, memiliki 12 Fakultas. Peserta SE yang langsung disambut oleh Prof Ghazali Darusslam hanya mengunjungi Fakulti of Education dan Library Fakulti. 

Kunjungan kedua dilanjutkan menuju  Institut Pendidikan Guru (IPG) kampus bahasa Melayu. Kampus merupakan  perguruan tinggi yang menjaga kelestarian Bahasa pribumi melayu Malaysia. 

Kampus yang didirikan oleh pemerintah Malaya ini merupkan wujud dari kepedulian pemerintah dalam mecetak ahli bahasa Demi melestarikan bahasa Melayu. Keseriusan pemerintah dalam menjaga eksistensi bahasa Melayu dapat kita lihat dalam upaya yang dilakukan dengan memberi beasiswa penuh bagi mahasiswa IPG Kuala Lumpur. Output dari kampus IPG akan disebarkan oleh untuk menjadi guru bahasa yang handal di seluruh santero Malaysia. 

Kunjungan ketiga  di kampus UKM, disambut dengan baik oleh Prof Maimun yang merupakan  wakil rektor UKM. Prof Maimun berbicara menggunakan bahasa Arab dan Melayu. Saat Prof Maimun tersebut berdilaog dengan peserta SE Muhammad Ridho Agung menggunakan bahasa Arab. Wakil rektor tersebut menanyakan asal daerah dan pengalaman studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Ridho menjelaskan identitasnya dan proses studinya di jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. 

Pertama, Prof Maimun  tersebut menanggapi bahwa sangat ingin datang ke Aceh melihat berbagai wisata situs sejarah tsunami di Aceh. 

Kedua,  menyarankan ketika sudah menyelesaikann studi di FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kiranya dapat  melanjutkannya studi  ke UKM. Prof Maimun mengatakan bahwa masalah biaya pendidikan tidak usah khawatir karena  UKM menyediakan  beasiswa bagi mahasiswa  yang rajin dan berprestasi. 

Bagi Mahasiswa Indoensia yang belum mendapatkan beasiswa, biasanya gemar menjadi  marbot masjid dan guru mengaji di lembaga pendidikan masjid di Malaysia. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan menjadi mahasiswa UKM di Malaysia, begitu ujar wakil rector tersebut. 

Gayung bersambut kemudian Ridho memberikan bingkisan kecil profil wisata tsunami di Aceh dan Profil Prodi MPI kepada Prof Maimun. (Romy)
Tag : NEWS
Back To Top