RADAR ACEH | Aceh Utara, Batu bata tradisional masih menjadi material utama pembangunan,gedung, perkantoran dan properti lainnya di Aceh. Meskipun dewasa ini sudah ditemukan inovasi bahan pengganti batu bata dalam membuat bangunan, tetapi sebagian besar masyarakat Aceh masih menggunakan batu bata yang justru pembuatannya melalui teknologi tradisional.
Terhadap industri batu bata di Aceh, Aceh Utara masih merupakan sentra industri pembuatan batu bata terbesar dan sudah dikenal hingga ke luar Aceh.
Demikian penuturan salah seorang pengusaha batu bata, Abdullah A Latief yang ditemui Radar Aceh di kilang pembuatan batu bata miliknya di Gampong Ulee Pulo, Kecamatabn Dewantara, Sabtu ((15/10).
Abdullah A Latif, menceritakan pengalamannya dalam pembuatan batu bata, yaitu sudah semenjak proyek proyek industri raksasa dibangun di Lhokseumawe dan Aceh Utara tahun 1975. "Hadirnya industri industri tersebut telah membuka peluang banyak penduduk disini untuk membangun industri batu bata, apalagi mendapat keuntungan besar", tuturnya.
Meskipun kalangan industri ketika itu coba menciptakan sendiri batu bata yang terbuat dari semen tetapi sebagian besar masyarakat lainnya tetap fanatik menggunakan batu bata dari tanah yang pembuatannya melalui teknologi tradisional.
"Didukung lahan tanah yang mempunyai tekstur sangat liat dan tidak terlalu banyak mengandung pasir adalah menjadi pilihan, batu bata yang dihasilkan bermutu tinggi. Selain itu semua industry batu bata disini rata rata lebih dekat dengan sumber air menjadi lebih membantu dalam proses pembuatan", papar Abdullah Latif.
Menurutnya, kondisi tanah dan sumber air yang dimiliiki, itulah
yang telah membawa kawasan ini menjadi sentra industri batu bata terbesar dan terkenal. Begitu juga terhadap lokasi usaha yang mudah terjangkau transportasi karena dekat dengan jalan negara, hingga
kepada pembuatan, tempat untuk pencetakan, penjemuran, pembakaran dan penampungan batu bata lebih siap dan mudah dipasarkan.
Dijelaskan pula, tanah di Kecamatan Dewantara merupakan tanah berkualitas tinggi dan tingkat kekuatan terjamin untuk batu bata.
Namun karena banyak pemilik "Dapu Bata" terbatas lahan tanah kebanyakan dari mareka harus membeli tanah atau menyewa.
"Kami memulai usaha pembuatan batu bata ini sudah 40 tahun yang merupakan usaha turun temurun yang terkadang tanpa modal," sebut Abdullah.
Dikatakan, usaha yang banyak liku liku yang harus dilakukan ini, mulai masalah tanah, ongkos injak, ongkos cetak, jemur, naik turun truk, beli kayu bakar hingga biaya perawatan. Proses pembuatan hingga pemasaran terkadang lebih satu bulan.
Abdullah menambahkan, belakangan ini hampir semua pemilik dapu bata mengandalkan modal melaui pinjaman Bank. "Bila lancar pemasaran tidak terhambat
pengembalian.
Namun bila macet, macet pula pengembalian, inilah resiko yang banyak dialami pemilik dapu bata disini," ungkapnya.
Dalam kesempatan ini, Abdullah sangat berharap kepada Pemda Aceh untuk sedikit menaruh perhatian terhadap industri batu bata tradisional yang dikelola masyarakat, dimohon ada penjamin dan penyandang modal dengan bunga rendah.
"Bila dengan mengandalkan pinjaman Bank banyak pemilik dapu bata terpaksa tutup karena tidak mampu membayar bunga Bank yang tinggi," keluh Abdullah Latif. (Ucr)
