CILACAP - Aktivitas keamanan di sekitar Pulau Nusakambangan, Selasa (26/7), meningkat. Keluarga dan perwakilan duta besar dari sejumlah terpidana mati mulai berdatangan di pulau tersebut.
Jajaran Polres Cilacap turut menggelar kegiatan praoperasi pengamanan eksekusi. Kunjungan keluarga ini merupakan yang pertama setelah para terpidana mati menjalani masa isolasi di LP Batu yang dikabarkan dilakukan mulai Senin (25/7) malam.
Jajaran Polres Cilacap turut menggelar kegiatan praoperasi pengamanan eksekusi. Kunjungan keluarga ini merupakan yang pertama setelah para terpidana mati menjalani masa isolasi di LP Batu yang dikabarkan dilakukan mulai Senin (25/7) malam.
Kunjungan ini dilakukan setelah para keluarga terlebih dulu dikumpulkan di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilacap hari itu juga. Mengenai kepastian waktu eksekusi belum ada pihak yang tahu.
Hanya saja dengan aktivitas yang meningkat di Nusakambangan itu, menandakan waktu eksekusi dilakukan dalam minggu ini. ‘’Eksekusi sebentar lagi. Waktunya dalam waktu dekat,’’kata sumber Suara Merdeka di Polres Cilacap. Sumber tersebut menambahkan, indikasi lain eksekusi dilakukan sebentar lagi adalah dengan digelarnya praoperasi pengamanan.
‘’Seperti yang dulu, jelang eksekusi ada praops (praoperasi- Red),’’ucapnya lagi. Keluarga yang berdatangan ada dari Pujo Lestari, Zulfikar Ali serta keluarga Merry Utami. Mereka langsung menyeberang ke Nusakambangan dengan menggunakan kapal pengayoman milik Kemenkumham. Kunjungan mereka ini juga dikawal oleh sejumlah jaksa eksekutor.
Kunjungan ini merupakan yang pertama dari pihak keluarga setelah Nusakambangan dinyatakan steril sejak Senin (25/7) kemarin. Dari pantauan di Dermaga Wijayapura, yang merupakan pintu masuk ke Pulau Nusakambangan, keramaian kendaraan pengangkut barang-barang makin bertambah. Termasuk adalah mulai masuk truk yang membawa peralatan tenda.
Seperti halnya dua eksekusi sebelumnya, tak jauh dari lokasi tembak akan dibangun tenda untuk berteduh bagi mereka yang berkepentingan menyaksikan eksekusi tersebut. Sementara itu sejak Selasa pagi sampai siang sejumlah tamu keluar masuk kantor Kejari Cilacap.
Mereka termasuk para jaksa eksekutor. Mereka dikumpulkan untuk pemeriksaan berkas terpidana mati yang akan dieksekusi. Selain itu, tamu yang berdatangan ke Kejari adalah perwakilan duta besar yang warganya masuk dalam daftar eksekusi dan keluarga terpidana mati.
Termasuk para jaksa eksekutor dari Kejari Medan yang memeriksa berkas milik Onkonkwo Nonso Kingleys asal Nigeria. Onkonkwo divonis mati di PN Medan atas kasus penyelundupan 1,1 kg heroin pada 2004 lalu. ‘’Ini baru koordinasi di Kejaksaan Negeri Cilacap. Kami lakukan pemeriksaan berkas untuk terpidana mati Onkonkwo Nonso Kingleys,’’ kata Olopan Nainggolan dari Kejari Medan.
Jadwal Bocor
Beredar informasi waktu eksekusi akan dilakukan Sabtu (30/7), malam. Salah satu kuasa hukum terpidana mati, Farhat Abas mengungkapkan hal itu. ‘’Saya dapat info eksekusi pada hari Sabtu malam,” ujar Farhat ketika akan berkoordinasi dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Nur Rochmad di Kejaksaan Agung, Selasa (26/6).
Kliennya, Seck Osmane, warga Nigeria berpaspor Senegal sudah berada di ruang isolasi LP Batu. Dia telah berkordinasi dengan pihak rohaniawan yang akan mendampingi Seck Osmane bahwa permohonan grasi kepada Presiden Joko Widodo tengah dalam proses.
Sementara Kejaksaan Agung belum merilis waktu dan jumlah terpidana mati yang akan menjalani eksekusi tahap tiga ini. Namun mengenai jumlah orang yang akan dieksekusi tidak berubah yakni 16 orang. Hal itu ditegaskan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Rum, tahun ini ada anggaran eksekusi mati untuk 16 orang.
Terpidana mati yang akan dieksekusi pada gelombang tiga ini berasal dari sejumlah wilayah hukum di Indonesia di antaranya dari wilayah hukum Banten dan Kepuluan Riau. Kendati demikian, Rum mengatakan, persiapan eksekusi gelombang tiga belum tuntas. ‘’Waktunya sudah semakin dekat, tapi persiapan kami belum final, jadi kami belum bisa kasih kepastian waktunya dan jumlah yang dieksekusi mati,’’tandasnya
Main Bola Voli
Setelah pelaksanaan eksekusi ini, masih 152 orang berstatus terpidana mati. ‘’Terpidana mati kasus pembunuhan 92 orang, kasus narkotika 58 orang dan kasus teroris ada dua orang,’’ujar Rum di Kejaksaan Agung. Bagaimana dengan Mary Jane Fiesta Veloso?
Sejauh ini dari daftar nama terpidana mati yang beredar tidak ada nama perempuan asal Filipina itu. Kemungkinan besar, dia tidak masuk dalam daftar eksekusi jilid tiga. Saat ini, Mary Jane masih mendekam di Lapas Wirogunan, Yogyakarta. Pernyataan itu disampaikan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY Tony Spontana kepada wartawan, Selasa (26/7).
Tony memastikan Mary Jane belum akan dieksekusi dalam waktu dekat. ‘’Masih menunggu proses hukum yang berkaitan kasusnya di Filipina. Kami tidak tahu kapan pemrosesannya akan rampung,’’kata Tony. Terpisah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) DIY Pramono menjelaskan, ibu dua anak itu dalam kondisi sehat.
Mary Jane masih rutin menjalankan aktivitas sehari-hari. ‘’Masih terus mengikuti program pembinaan. Dia paling senang main bola voli,” kata Pramono. Mary Jane Fiest Veloso penyelundup narkoba yang divonis mati oleh PN Sleman pada 2010. Pada proses banding dan kasasi, hukuman itu tidak berubah.
Beberapa waktu lalu, Mary Jane mengajukan grasi kepada Presiden tapi permohonannya tidak dikabulkan. Upaya hukum peninjauan kembali (PK) yang ditempuh kuasa hukumnya juga ditolak. Sebelumnya, Kajati Tony Spontana menegaskan, meski eksekusi ditunda namun status Mary Jane adalah seorang terpidana mati. Dia meragukan proses hukum atas Maria Kristina Sergio bakal mengubah status Mary Jane karena keputusannya sudah inkrah.
Mary Jane merupakan terpidana kasus perdagangan narkotika, sedangkan Maria Kristina didakwa kasus traficking. Selain Mary Jane ada pula Merry Utami yang menjadi terpidana mati kasus narkoba. Dari penelusuran di lapangan, dia ternyata pernah tinggal di Kartasura, di Jalan Veteran 2, Notosuman RT 5/V Singopuran, Kecamatan Kartasuran, Sukoharjo.
Kendati demikian, banyak warga yang tidak mengenal sosok Merry. Priyono, salah satu warga setempat saat ditemui wartawan mengatakan, Merry tinggal di rumah kakak kandungnya. Sebelumnya, Merry tinggal bersama suaminya di Madiun, Jawa Timur. Namun setelah cerai, dia pindah ke rumah kakaknya itu namun tidak lama.
Selain itu, Merry sudah tidak sendiri. Sebab pada saat datang ke Notosuman sekitar 2000-an itu, anak Merry sudah SMP. Tetapi sejauh ini, dia tidak tahu apakah kalau nanti jadi dieksekusi jenazahnya akan dikebumikan di Kartasura atau tidak. “Kalau tidak salah, Merry berasal dari Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo.” (SM,dtc,ant)
Hanya saja dengan aktivitas yang meningkat di Nusakambangan itu, menandakan waktu eksekusi dilakukan dalam minggu ini. ‘’Eksekusi sebentar lagi. Waktunya dalam waktu dekat,’’kata sumber Suara Merdeka di Polres Cilacap. Sumber tersebut menambahkan, indikasi lain eksekusi dilakukan sebentar lagi adalah dengan digelarnya praoperasi pengamanan.
‘’Seperti yang dulu, jelang eksekusi ada praops (praoperasi- Red),’’ucapnya lagi. Keluarga yang berdatangan ada dari Pujo Lestari, Zulfikar Ali serta keluarga Merry Utami. Mereka langsung menyeberang ke Nusakambangan dengan menggunakan kapal pengayoman milik Kemenkumham. Kunjungan mereka ini juga dikawal oleh sejumlah jaksa eksekutor.
Kunjungan ini merupakan yang pertama dari pihak keluarga setelah Nusakambangan dinyatakan steril sejak Senin (25/7) kemarin. Dari pantauan di Dermaga Wijayapura, yang merupakan pintu masuk ke Pulau Nusakambangan, keramaian kendaraan pengangkut barang-barang makin bertambah. Termasuk adalah mulai masuk truk yang membawa peralatan tenda.
Seperti halnya dua eksekusi sebelumnya, tak jauh dari lokasi tembak akan dibangun tenda untuk berteduh bagi mereka yang berkepentingan menyaksikan eksekusi tersebut. Sementara itu sejak Selasa pagi sampai siang sejumlah tamu keluar masuk kantor Kejari Cilacap.
Mereka termasuk para jaksa eksekutor. Mereka dikumpulkan untuk pemeriksaan berkas terpidana mati yang akan dieksekusi. Selain itu, tamu yang berdatangan ke Kejari adalah perwakilan duta besar yang warganya masuk dalam daftar eksekusi dan keluarga terpidana mati.
Termasuk para jaksa eksekutor dari Kejari Medan yang memeriksa berkas milik Onkonkwo Nonso Kingleys asal Nigeria. Onkonkwo divonis mati di PN Medan atas kasus penyelundupan 1,1 kg heroin pada 2004 lalu. ‘’Ini baru koordinasi di Kejaksaan Negeri Cilacap. Kami lakukan pemeriksaan berkas untuk terpidana mati Onkonkwo Nonso Kingleys,’’ kata Olopan Nainggolan dari Kejari Medan.
Jadwal Bocor
Beredar informasi waktu eksekusi akan dilakukan Sabtu (30/7), malam. Salah satu kuasa hukum terpidana mati, Farhat Abas mengungkapkan hal itu. ‘’Saya dapat info eksekusi pada hari Sabtu malam,” ujar Farhat ketika akan berkoordinasi dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Nur Rochmad di Kejaksaan Agung, Selasa (26/6).
Kliennya, Seck Osmane, warga Nigeria berpaspor Senegal sudah berada di ruang isolasi LP Batu. Dia telah berkordinasi dengan pihak rohaniawan yang akan mendampingi Seck Osmane bahwa permohonan grasi kepada Presiden Joko Widodo tengah dalam proses.
Sementara Kejaksaan Agung belum merilis waktu dan jumlah terpidana mati yang akan menjalani eksekusi tahap tiga ini. Namun mengenai jumlah orang yang akan dieksekusi tidak berubah yakni 16 orang. Hal itu ditegaskan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Rum, tahun ini ada anggaran eksekusi mati untuk 16 orang.
Terpidana mati yang akan dieksekusi pada gelombang tiga ini berasal dari sejumlah wilayah hukum di Indonesia di antaranya dari wilayah hukum Banten dan Kepuluan Riau. Kendati demikian, Rum mengatakan, persiapan eksekusi gelombang tiga belum tuntas. ‘’Waktunya sudah semakin dekat, tapi persiapan kami belum final, jadi kami belum bisa kasih kepastian waktunya dan jumlah yang dieksekusi mati,’’tandasnya
Main Bola Voli
Setelah pelaksanaan eksekusi ini, masih 152 orang berstatus terpidana mati. ‘’Terpidana mati kasus pembunuhan 92 orang, kasus narkotika 58 orang dan kasus teroris ada dua orang,’’ujar Rum di Kejaksaan Agung. Bagaimana dengan Mary Jane Fiesta Veloso?
Sejauh ini dari daftar nama terpidana mati yang beredar tidak ada nama perempuan asal Filipina itu. Kemungkinan besar, dia tidak masuk dalam daftar eksekusi jilid tiga. Saat ini, Mary Jane masih mendekam di Lapas Wirogunan, Yogyakarta. Pernyataan itu disampaikan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY Tony Spontana kepada wartawan, Selasa (26/7).
Tony memastikan Mary Jane belum akan dieksekusi dalam waktu dekat. ‘’Masih menunggu proses hukum yang berkaitan kasusnya di Filipina. Kami tidak tahu kapan pemrosesannya akan rampung,’’kata Tony. Terpisah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) DIY Pramono menjelaskan, ibu dua anak itu dalam kondisi sehat.
Mary Jane masih rutin menjalankan aktivitas sehari-hari. ‘’Masih terus mengikuti program pembinaan. Dia paling senang main bola voli,” kata Pramono. Mary Jane Fiest Veloso penyelundup narkoba yang divonis mati oleh PN Sleman pada 2010. Pada proses banding dan kasasi, hukuman itu tidak berubah.
Beberapa waktu lalu, Mary Jane mengajukan grasi kepada Presiden tapi permohonannya tidak dikabulkan. Upaya hukum peninjauan kembali (PK) yang ditempuh kuasa hukumnya juga ditolak. Sebelumnya, Kajati Tony Spontana menegaskan, meski eksekusi ditunda namun status Mary Jane adalah seorang terpidana mati. Dia meragukan proses hukum atas Maria Kristina Sergio bakal mengubah status Mary Jane karena keputusannya sudah inkrah.
Mary Jane merupakan terpidana kasus perdagangan narkotika, sedangkan Maria Kristina didakwa kasus traficking. Selain Mary Jane ada pula Merry Utami yang menjadi terpidana mati kasus narkoba. Dari penelusuran di lapangan, dia ternyata pernah tinggal di Kartasura, di Jalan Veteran 2, Notosuman RT 5/V Singopuran, Kecamatan Kartasuran, Sukoharjo.
Kendati demikian, banyak warga yang tidak mengenal sosok Merry. Priyono, salah satu warga setempat saat ditemui wartawan mengatakan, Merry tinggal di rumah kakak kandungnya. Sebelumnya, Merry tinggal bersama suaminya di Madiun, Jawa Timur. Namun setelah cerai, dia pindah ke rumah kakaknya itu namun tidak lama.
Selain itu, Merry sudah tidak sendiri. Sebab pada saat datang ke Notosuman sekitar 2000-an itu, anak Merry sudah SMP. Tetapi sejauh ini, dia tidak tahu apakah kalau nanti jadi dieksekusi jenazahnya akan dikebumikan di Kartasura atau tidak. “Kalau tidak salah, Merry berasal dari Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo.” (SM,dtc,ant)
Tag :
NEWS
