PT AAF Sudah Tutup Namun Masjid Al Kautsar Tetap Hidup

Radar Aceh | Aceh Utara, Perusahaan boleh tutup, masjid tidak boleh tutup. Hal ini disampaikan  Imam Besar  Masjid Al Kautsar PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) Krueng Geukueh, Aceh Utara, Tgk H  Yusri Syamsuddin menjawab Radar Aceh, usai shalat Jum'at kemarin.

Dijelaskan,  mengenai kondisi masjid Al Kautsar setelah PT AAF tutup yang sudah berlangsung sekitar 11 tahun tepatnya pada akhir 1994 lalu kegiatan masjid tambah ramai dan meningkat  kendati semua karyawan sudah terkena PHK. Tgk Yusri yang didampingi Rohindono, Kepala Dusun (Kadus) AAF desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara mengatakan, tidak ada perobahan baik terhadap jamaah maupun kegiatan masjid, Minggu (04/12).

"Semua kegiatan keagamaan di masjid Al Kautsar berjalan baik. Begitu juga terhadap jamaah shalat waktu tetap terisi hingga shalat subuh," kata Tgk Yusri yang masih tetap sebagai imam besar.

Khusus terhadap kegiatan keagamaan yang meliputi pengajian, ceramah termasuk dalam memperingati hari hari besar Islam tetap berlangsung seperti  ketika PT AAF masih hidup.

"Kami tidak ingin masjid ini ikut ditutup, itu sudah kesepakatan kami semua yang tinggal disekitar masjid ini," tegas Tgk Yusri. Mengenai dengan jamaah,sebahagian dari mantan karyawan yang sekarang masih menempati rumah rumah dikompleks perumahan, sebahagiannya lagi dari kompleks perumahan BTN AAF dan warga sekitar." Insya Allah, kita akan terus meramaikan dan menyampaikan syiar Islam di masjid yang megah ini," ucapnya.

Sementara Kadus AAF, Rohindono menyebutkan, dusun  AAF meliputi kompleks perumahan karyawan dan kompleks perumahan BTN AAF yang didalamnya terdapat sekitar 500 unit rumah. Saat ini terutama rumah rumah karyawan banyak yang sudah hancur.

Bahkan empat unit rumah
direksi yang megah dan mewah kini tinggal dua lagi selebihnya sudah hancur dan terbakar. "Maklum sudah 11 tahun tidak pernah ditempati lagi", ucap Kadus.

Dia menambahkan, saat ini ada sekitar 250 kepala keluarga (KK) yang mendiami kompleks perumahan AAF. Dari jumlah tersebut 130 KK merupakan mantan karyawan AAF selebihnya ada dari dosen beberapa universitas di Aceh, PNS dan TNI. 

Mareka ini menempati rumah dinas mantan karyawan PT AAF yang katanya ,ada karena sudah dibeli atau disewa dan ada juga yang menumpang.

"Tidak ada masalah, semua mareka yang menempati rumah rumah tersebut terdata," ujar Rohindono.

Sementara Ketua Tim Supporting, PT AAF, Ir Hendri Suhery dalam sebuah kesempatan kepada Radar Aceh  mengatakan, akan didata ulang dan sebahagiannya sudah dikirim surat untuk dikosongkan karena rumah rumah tersebut akan digunakan PT PIM. (Ucr).

Tag : NEWS
Back To Top