| KANTONG JENAZAH: Polisi membawa salah satu kantong berisi jasad terduga teroris yang ditembak mati di Poso ke ruang jenazah RS Bhayangkara Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (19/7). (SM/AFP) |
JAKARTA – Berdasarkan identifikasi fisik dan sidik jari, Polri memastikan jenazah teroris yang ditembak mati di Poso adalah pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah.
Santoso tewas setelah tubuhnya tertembus lima peluru. Empat peluru menembus dada dan perut, sedangkan satu peluru mengenai lengan. Empat tembakan masih membuat Santoso bergerak dan mencoba melawan. “Satu tembakan terakhir mengenai dada dilepaskan oleh Komandan Tim Alfa Serda Firman.
Tembakan inilah yang diduga membuat Santoso tewas,” kata Wakil Komandan Pelaksana Operasi Tinombala Brigadir Jenderal TNI Ilyas Alamsyah di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (19/7). Satu teroris lain yang juga tewas, Muchtar, mengalami luka tembak di sejumlah bagian tubuh. Muchtar yang merupakan pengawal Santoso diduga melakukan perlawanan hebat hingga akhirnya diberondong peluru oleh tim Alfa dari Batalyon Raider 515 Kostrad.
Menurut Ilyas, lima anggota kelompok MIT, termasuk Santoso, disergap di pinggir sungai di wilayah hutan dan pegunungan Desa Tambarana. Saat itu salah satu perempuan yang ikut disergap aparat sedang mandi di sungai.
“Perempuan yang diduga istri Santoso itu melarikan diri sambil menembaki aparat dengan kondisi tanpa busana,” imbuh Ilyas. Dua perempuan yang diduga istri Santoso dan istri Basri, serta Basri yang melarikan diri, terus diburu. Ketiganya melarikan diri ke hutan pegunungan Poso.
Walaupun Santoso sudah dinyatakan tewas, sel-sel kecil jaringan MITdiduga masih tersebar di sejumlah daerah. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, perburuan belum selesai. “Ada beberapa sel kecil di Jawa, kemudian di Bima (NTB) juga masih ada,” kata Tito di Istana Negara. Santoso, imbuh Tito, dianggap sebagai tokoh nasional di Indonesia oleh kelompoknya di beberapa daerah.
Awalnya Poso hendak dijadikan base camp kelompok ini, sehingga operasi difokuskan di Sulawesi Tengah. “Dengan dipatahkan seperti ini, otomatis mereka kehilangan harapan untuk membuat base camp yang aman di sana, jadi bubar.”
Kemarin, jenazah Santoso dan Muchtar dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri di Palu, Sulteng, untuk proses identifikasi lebih lanjut. Polri akan melakukan tes DNA untuk menguatkan identifikasi fisik. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, ciri-ciri fisik jenazah yang diduga kuat Santoso tersebut di antaranya tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri dan bekas luka tembak di paha.
“Uji laboratorium butuh tiga hari. Tapi dari lima ciri-ciri, itu milik Santoso. Itu juga sudah kami konfirmasi dengan orang yang kenal dia,” ujar Boy di Mabes Polri. Ia menambahkan, Operasi Tinambola terus berlangsung untuk memburu sisa jaringan Santoso di wilayah tersebut yang diperkirakan tinggal 19 orang.
Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberi kenaikan pangkat luar biasa kepada sembilan anggota tim yang menyergap dan menewaskan Santoso. Selain komandan regu Serda Firman, delapan anggota tim itu berpangkat prada dan pratu. Gatot memuji keberhasilan anggota Batalyon Raider 515 Kostrad. Namun dia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut berkat sinergi luar biasa seluruh anggota Satgas Tinombala dari Polri dan TNI.
“Kami berterima kasih kepada polisi, TNI AD, Marinir TNI AL, dan TNI Angkatan Udara atas kinerjanya. TNI AU juga dilibatkan dalam operasi ini, dengan mengerahkan drone yang selalu melihat pergerakan jaringan Santoso,” ujar Gatot usai acara Penganugerahan Tanda Kehormatan kepada Panglima Militer Singapura Letjen Perry Lim, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, kemarin.
Gatot mengatakan, tim yang menewaskan Santoso berangkat sejak 13 hari yang lalu. “Anda bayangkan, sembilan orang butuh tiga hari untuk menempuh jarak sekitar 11 kilometer ke tempat persembunyian Santoso, sementara untuk sampai ke titik penyergapan membutuhkan waktu delapan hari. Sebab, mereka bergerak malam hari dan mengendap-endap ke tempat-tempat yang sudah dicurigai,” jelasnya.
Diharapkan Menyerah
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan, dengan kematian Santoso, ada potensi serangan balik terhadap aparat ataupun publik. Namun Sutiyoso mengaku belum mendapat laporan terkait potensi serangan tersebut. “Belum ada informasi. Justru kami menunggu, karena aparat sudah siap menghadapi mereka,” katanya.
Menurut dia, biasanya kelompok teroris akan mengendurkan aksi begitu ada serangan dari aparat. Mereka akan tiarap dulu dan berkonsolidasi untuk menyiapkan serangan balik. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo berharap, dengan tewasnya Santoso, anak buahnya akan menyerah. ‘’Kita berharap Satgas Tinombala mampu memberantas pengikutnya yang masih tersisa.
Mereka mau menyerah, dan tercapailah stabilitas, sehingga pembangunan di sana bisa lebih cepat,” kata. Sementara itu, sejumlah pihak mengapresiasi keberhasilan Satgas Tinombala. Mereka antara lain Ketua MPR Zulkifli Hasan dan anggota Komisi III DPR Nasir Djamil. Zulkifli berharap jaringan MIT melemah dan tidak berkembang. ‘’Langkah Satgas perlu diacungi jempol, mengingat operasi telah dilakukan sejak 2012 dan harus menempuh wilayah yang sulit terjangkau.
Ini hasil kerja keras tim Satgas yang sangat terlatih,’’ujar Nasir. Meski demikian, anggota Tim Panitia Khusus Perubahan Undang-Undang No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme ini mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi pelaksanaan Operasi Tinombala yang dinilai cukup efektif. Evaluasi itu akan menjadi bahan revisi UU Terorisme.
Kematian Santoso, imbuh Nasir, juga merupakan tantangan besar bagi calon Kepala BNPT Suhardi Alius yang akan dilantik Presiden Jokowi, besok (20/7). ‘’Ini pekerjaan rumah berat bagi Suhardi. Perlu langkah strategis untuk mengantisipasi kemarahan dan teror dari loyalis Santoso.’’
Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Junaidi Mahesa mengingatkan, masalah terorisme di Indonesia tidak akan mudah selesai dengan tewasnya seorang tokoh teroris. Bila tidak ditangani secara komprehensif, hal ini justru akan memunculkan teroris-teroris baru. (sm,Viva,dtc)
Santoso tewas setelah tubuhnya tertembus lima peluru. Empat peluru menembus dada dan perut, sedangkan satu peluru mengenai lengan. Empat tembakan masih membuat Santoso bergerak dan mencoba melawan. “Satu tembakan terakhir mengenai dada dilepaskan oleh Komandan Tim Alfa Serda Firman.
Tembakan inilah yang diduga membuat Santoso tewas,” kata Wakil Komandan Pelaksana Operasi Tinombala Brigadir Jenderal TNI Ilyas Alamsyah di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (19/7). Satu teroris lain yang juga tewas, Muchtar, mengalami luka tembak di sejumlah bagian tubuh. Muchtar yang merupakan pengawal Santoso diduga melakukan perlawanan hebat hingga akhirnya diberondong peluru oleh tim Alfa dari Batalyon Raider 515 Kostrad.
Menurut Ilyas, lima anggota kelompok MIT, termasuk Santoso, disergap di pinggir sungai di wilayah hutan dan pegunungan Desa Tambarana. Saat itu salah satu perempuan yang ikut disergap aparat sedang mandi di sungai.
“Perempuan yang diduga istri Santoso itu melarikan diri sambil menembaki aparat dengan kondisi tanpa busana,” imbuh Ilyas. Dua perempuan yang diduga istri Santoso dan istri Basri, serta Basri yang melarikan diri, terus diburu. Ketiganya melarikan diri ke hutan pegunungan Poso.
Walaupun Santoso sudah dinyatakan tewas, sel-sel kecil jaringan MITdiduga masih tersebar di sejumlah daerah. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, perburuan belum selesai. “Ada beberapa sel kecil di Jawa, kemudian di Bima (NTB) juga masih ada,” kata Tito di Istana Negara. Santoso, imbuh Tito, dianggap sebagai tokoh nasional di Indonesia oleh kelompoknya di beberapa daerah.
Awalnya Poso hendak dijadikan base camp kelompok ini, sehingga operasi difokuskan di Sulawesi Tengah. “Dengan dipatahkan seperti ini, otomatis mereka kehilangan harapan untuk membuat base camp yang aman di sana, jadi bubar.”
Kemarin, jenazah Santoso dan Muchtar dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri di Palu, Sulteng, untuk proses identifikasi lebih lanjut. Polri akan melakukan tes DNA untuk menguatkan identifikasi fisik. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, ciri-ciri fisik jenazah yang diduga kuat Santoso tersebut di antaranya tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri dan bekas luka tembak di paha.
“Uji laboratorium butuh tiga hari. Tapi dari lima ciri-ciri, itu milik Santoso. Itu juga sudah kami konfirmasi dengan orang yang kenal dia,” ujar Boy di Mabes Polri. Ia menambahkan, Operasi Tinambola terus berlangsung untuk memburu sisa jaringan Santoso di wilayah tersebut yang diperkirakan tinggal 19 orang.
Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberi kenaikan pangkat luar biasa kepada sembilan anggota tim yang menyergap dan menewaskan Santoso. Selain komandan regu Serda Firman, delapan anggota tim itu berpangkat prada dan pratu. Gatot memuji keberhasilan anggota Batalyon Raider 515 Kostrad. Namun dia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut berkat sinergi luar biasa seluruh anggota Satgas Tinombala dari Polri dan TNI.
“Kami berterima kasih kepada polisi, TNI AD, Marinir TNI AL, dan TNI Angkatan Udara atas kinerjanya. TNI AU juga dilibatkan dalam operasi ini, dengan mengerahkan drone yang selalu melihat pergerakan jaringan Santoso,” ujar Gatot usai acara Penganugerahan Tanda Kehormatan kepada Panglima Militer Singapura Letjen Perry Lim, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, kemarin.
Gatot mengatakan, tim yang menewaskan Santoso berangkat sejak 13 hari yang lalu. “Anda bayangkan, sembilan orang butuh tiga hari untuk menempuh jarak sekitar 11 kilometer ke tempat persembunyian Santoso, sementara untuk sampai ke titik penyergapan membutuhkan waktu delapan hari. Sebab, mereka bergerak malam hari dan mengendap-endap ke tempat-tempat yang sudah dicurigai,” jelasnya.
Diharapkan Menyerah
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan, dengan kematian Santoso, ada potensi serangan balik terhadap aparat ataupun publik. Namun Sutiyoso mengaku belum mendapat laporan terkait potensi serangan tersebut. “Belum ada informasi. Justru kami menunggu, karena aparat sudah siap menghadapi mereka,” katanya.
Menurut dia, biasanya kelompok teroris akan mengendurkan aksi begitu ada serangan dari aparat. Mereka akan tiarap dulu dan berkonsolidasi untuk menyiapkan serangan balik. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo berharap, dengan tewasnya Santoso, anak buahnya akan menyerah. ‘’Kita berharap Satgas Tinombala mampu memberantas pengikutnya yang masih tersisa.
Mereka mau menyerah, dan tercapailah stabilitas, sehingga pembangunan di sana bisa lebih cepat,” kata. Sementara itu, sejumlah pihak mengapresiasi keberhasilan Satgas Tinombala. Mereka antara lain Ketua MPR Zulkifli Hasan dan anggota Komisi III DPR Nasir Djamil. Zulkifli berharap jaringan MIT melemah dan tidak berkembang. ‘’Langkah Satgas perlu diacungi jempol, mengingat operasi telah dilakukan sejak 2012 dan harus menempuh wilayah yang sulit terjangkau.
Ini hasil kerja keras tim Satgas yang sangat terlatih,’’ujar Nasir. Meski demikian, anggota Tim Panitia Khusus Perubahan Undang-Undang No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme ini mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi pelaksanaan Operasi Tinombala yang dinilai cukup efektif. Evaluasi itu akan menjadi bahan revisi UU Terorisme.
Kematian Santoso, imbuh Nasir, juga merupakan tantangan besar bagi calon Kepala BNPT Suhardi Alius yang akan dilantik Presiden Jokowi, besok (20/7). ‘’Ini pekerjaan rumah berat bagi Suhardi. Perlu langkah strategis untuk mengantisipasi kemarahan dan teror dari loyalis Santoso.’’
Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Junaidi Mahesa mengingatkan, masalah terorisme di Indonesia tidak akan mudah selesai dengan tewasnya seorang tokoh teroris. Bila tidak ditangani secara komprehensif, hal ini justru akan memunculkan teroris-teroris baru. (sm,Viva,dtc)
Tag :
NEWS
