RADAR ACEH | Aceh Utara, Tampilnya perempuan dalam berbagai sektor pemerintahan di Aceh menandakan perempuan Aceh mulai bangkit setelah sekian puluh tahun terbenam. Tidak berdayanya perempuan Aceh dalam kencah politik dan pemerintahan selama ini lebih diakibatkan oleh konflik yang berkepanjangan, Minggu (21/08).
Pergolakan demi pergolakan yang terjadi di Aceh selama kurun waktu tersebut banyak perempuan Aceh menjadi korban. Baik korban terbunuh maupun korban kekerasan lainnya. Selain itu banyak kaum perempuan Aceh tertindas oleh sistim marjinal yang memandang perempuan lebih rendah.
Erni Putri, 30 tahun seorang pemerhati perempuan di Aceh Utara kepada Radar Aceh belum lama ini menuturkan, perempuan Aceh saat ini tertinggal jauh bila dibandingkan dengan perempuan daerah lain dan perempuan Aceh zama dulu.
Di era Aceh berada dalam pemerintahan kerajaan, banyak perempuan menjadi ratu memimpin kerajaan.
Bahkan ketika melawan penjajah, perempuan Aceh tampil menjadi panglima dan laksamana. Juga ada yang menjadi ulama.
Menurut Erni Putri yang pernah studi ke Malaysia, perempuan Aceh sudah berpuluh tahun mengalami kemunduran. Kemunduran dalam pendidikan, ekonomi dan politik dan yang lebih memprihatinkan lagi perempuan Aceh banyak yang mengalami trauma oleh berbagai kekerasaan.
Karenanya tak heran bila sekarang perempuan Aceh terutama perempuan yang tinggal di pedesaan banyak yang menjadi buruh tani, pembantu rumah tangga bahkan ada yang menjadi TKW ke luar negeri.
Syukur, tuntutan emansipasi atau affirmative action yang terus disuarakan organisasi perempuan diseluruh penjuru nusantara Aceh mulai melahirkan sosok wanita yang terpilih untuk menjadi Wakil Walikota Kota Banda Aceh yaitu Illiza Saaddudin Djamal SE.
Erni Putri yang tinggal di Aceh Utara giat dalam berbagai kegiatan sosial dan pemberdayakan perempuan lebih jauh menguraikan, masih terbatasnya kemunculan perempuan Aceh dalam dunia politik dan pemerintahan belakangan ini juga disebabkan kepedulian kaum perempuan sendiri masih rendah. Kaum perempuan Aceh belum timbul kesadaran dalam membela dan mendorong kaumnya muncul dalam ranah perpolitikan.
"Harusnya kaum perempuan Aceh lebih membela kaumnya karena naluri perempuan sendiri lebih berpihak dalam membela sesama perempuan. Yang namanya perempuan dimanapun dia berada akan sangat sedih dan miris ketika mendengar perempuan mendapat siksaan dan perlakuan kasar lainnya, "ujar Erni Putri.
Dijelaskan, banyak orang luar Aceh bertanya dan menyatakan, sangat ironis perempuan Aceh masih sangat terbatas untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Ada apa?.
Apa karena perempuan Aceh tidak memiliki kompetensi atau keahlian dalam ilmu politik dan ilmu menajemen pemerintahan atau ada unsur lain hingga perempuan Aceh kurang mendapat kepercayaan.
Erni Putri mengaku, semula tak ingin menjawab pertanyaan yang dilontar itu tapi karena terpanggil ingin membela kaum perempuan Aceh terpaksa dijawab. Kepada mareka Erni menjelaskan, "perempuan Aceh bukan tidak memiliki kompetensi, perempuan Aceh sudah cukup banyak yang berpendidikan tinggi dengan berbagai tingkatan ilmu, doctor, insinyur bahkan professor.
Begitu juga teerhadap kecerdasan dan keunggulan wanita Aceh menguasai sain dan teknologi termasuk ilmu agama sudah cukup banyak namun karena tidak mendapat kepercayaan dan peluang, semua ilmu yang dimiliki perempuan Aceh kandas tidak berbekas.
Erni Putri berharap dalam momen Pilkada berikutnya perempuan Aceh harus bangkit, Bukan zamannya lagi kaum perempuan dimarjinalkan. Karena baik dalam undang undang negara maupun ajaran Islam kedudukan perempuan adalah sama. Bahkan Erni Putri yakin, bila perempuan dipercayakan, Aceh bakal lebih cepat maju.
Ada banyak kelebihan yang dimiliki perempuan yaitu, jujur, disiplin dan takut kepada korupsi. Bahkan dalam hal mendidik perempuanlah yang paling mengerti. Karenanya Erni Putri mengingatkan kepada semua, beri kesempatan kepada perempuan, lindungi mareka dan jangan sekali kali berbuat anianya kepada perempuan. Ingat, surga ada dibawah kaki ibu, camkan," cetus Erni Putri. (UCR)
