SWEDIA - Dalam ruang XX Palais Des Nation, Jenewa, Swiss, pada November lalu, perwakilan Acheh-Sumatra National Liberation Front yang berpusat di Swedia mempertanyakan benerapa hal, yang terkait langsung dengan penegakan HAM di Indonesia khususnya Aceh, Minggu (08/01)
Forum on Minority Issues merupakan ajang pembahasan tentang masalah nasional yaitu etnis, agama dan bahasa untuk kaum minoritas.
Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan negara serta organisasi regional, aktivis HAM dari berbagai belahan dunia.
Delegasi ASNLF yang diwakili oleh Asnawi Ali memaparkan kondisi Aceh secara umum selama konflik bersenjata hingga paska Tsunami yang telah melahirkan perdamaian antara GAM dan RI.
ASNLF juga meminta adanya perubahan yang mendasar pada institusi sipil dan meminta institusi sipil agar diberdayakan. Selain itu, ASNLF juga meminta tidak ada lagi praktek kekebalan hukum atau impunitas di Indonesia.
Tambah Asnawi Ali, bahwa hingga saat ini rakyat Aceh masih menginginkan perubahan terkait beberapa hak, diantarany politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Sementara itu, perwakilan Indonesia yang diwakili oleh sekretaris duta besar Republik Indonesia di Jenewa, Sondang Anggraeni, membantah tudingan yang dilontarkan oleh delegasi ASNLF.
Menurut Anggraeni, Indonesia merupakan negara yang menghormati HAM dan memiliki kebebasan berekspresi bagi warganya,"tutup Asnawi Ali dalam rilis yang dikirimkannya kemeja redaksi Radaraceh.com.(A,007)
