Oleh : Felix Azizi
Meurah Bintang ;
Pegiat di LSM IDeAS
Terlepas dari segala perdebatan dan upaya penghilangan narasi Aceh terhadap pendirian Republik ini. Untuk diingatkan bagi pemerintahan pak Jokowi yang kerap kali amnesia akhir-akhir ini.
Agaknya saya memiliki beberapa pandangan,
1) kilometer 0 Barus tidak berarti sama sekali menghapus Peran Aceh untuk Republik ini.
Aceh terdahulu, tetap sebagai wilayah modal dan model serta berperan sentral sebagai "Titik Kunci" diaspora penyebaran pemersatu Nusantara (para Habaib dan Ulama) hingga lahir sebuah "Negara kesatuan" yg terdiri dari "bangsa-bangsa" dengan dipersatukan berlandaskan sila Ketuhanan yang Maha Esa.
2)Dengan kejadian ini, kita bisa melihat dan menilai keseriusan lembaga Wali Nanggroe sebagai salah satu lembaga yang menandakan kekhususan serta keistimewaan Aceh.
3) Menghilangkan terlebih dahulu segala ego primordial dan menganggap kilometer 0 Barus adalah proses yg perlu dilihat secara positif, sebagai proses dialektika dan pengingat bagi generasi Aceh untuk kembali mengingat sejarah, merawat budaya dan mengingat sejauh apa ketertinggalan kita hari ini dengan para pendahulu, Kejadian2 ini yg seharus ny menjadikan kita mengenal dan membenahi diri untuk kembali merawat "jatidiri" serta "peran" Aceh bagi Republik dan Peradaban Dunia ( Asia Tenggara )
4) Dimana Aceh sekarang ? lihat posisi tawar kita, Malulah dengan para pendahulu dan mari berbenah.
Jangan rusak lagi narasi yang dianggap oleh "para pemimpin yg semakin mirip penerus kolonial - kolonial itu tidak lagi bernilai dan usang.
Perbaharui dan mari "Kita" tenun Aceh kini, Aceh Baru yang menjadi bingkai Republik yang sudah 71 tahun ini.
