RADAR ACEH | Bireuen- "Melambungnya harga daging 'Meugang' di Aceh dalam setiap Kabupaten/Kota menjelang tibanya Bulan Suci Ramadhan yang merupakan kearifan lokal secara turun menurun masih berlaku setiap tahunnya yang turut mengundang keprihatinan kita semua"
Hal iti disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Pusat Analisis Kajian Dan Advokasi Rakyat (DPW PAKAR) Bireuen M.Iqbal S.Sos, saat di hubungi oleh pihak media, turut angkat bicara, Kamis:, 25/05/2017.
M.Iqbal menilai "Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota, Gagal menjamin kestabilan harga daging 'Meugang' di Aceh
Kita sungguh sangat terkejut melihat ketidakstabilan harga daging yang dijualkan oleh pedagang kepada masyarakat yang menyemarakkan Meugang setiap tahun di Aceh. Harga dagingnya pada setiap Kabupaten/Kota, rata rata selalu diatas Rp 150.000 hingga Rp 170.000, katanya.
"Tentu dengan harga yang tidak kondusif seperti demikian di pasar, membuat masyarakat yang sumber ekonominya lemah tergolong dalam kategori fakir-miskin, sungguh sangat memberatkan permainan harga yang ditetapkannya secara sepihak dengan mendahului ketetapan yang telah di inginkan oleh Pemerintah Aceh, melalui dinas terkait SKPA kemarin", ungkapnya
Apa yang pernah disampaikan oleh Gubernur Aceh beberapa hari yang lalu di Media cetak dan Media Online "Meminta Harga Daging "Meugang" kapada pedagang di tahun ini jangan lebih dari harga Rp 130.000 per 1 Kg". Ternyata bertolak belakang dengan kondisi fakta dilapangan saat kita meninjau ke pasar 'Meugang' sungguh sangat berbeda dalam beberapa Kecamatan dalam Kabupaten Bireuen, harganya setiap Kilogram sangat bervariasi,ada yang dijual 1Kg Rp 160.000, Rp170.000 dan Rp 180.000" jelas Iqbal,
Disinilah kita lihat Pemerintah di Aceh, tidak mampu memainkan peranan pentingnya sesuai kewenangan dalam upaya menekan para pedagang lapak daging, sungguh gila sekali harganya dijual dalam 1 Kg setahun sekali harganya termasuk termahal di dunia"
"Kita mendesak Pemerintahan Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota, bisa menjalankan kewenangannya dalam upaya mengendalikan kestabilan harga daging di Aceh agar tidak terlampau tinggi. Kita dorong Pemerintah di Aceh, melalui dinas terkait untuk segera melahirkan sistem jaminan Regulasi harga daging yang tidak merugikan pedagang daging lembu serta tidak memberatkan ekonomi rakyat Aceh saat menjelang momentum Hari Meugang di Aceh". "tutup Iqbal mantan aktivis di Bireuen itu. Rilis [SR]
Tag :
NEWS
