| Nasir Abbas : Foto SM |
SEMARANG – Mantan anggota Jamaah Islamiyah Nasir Abbas mengungkapkan, meski pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah sudah tewas, namun 19 anggota lain yang masih hidup dipastikan tidak akan tinggal diam.
Mereka yang kini berada di sekitar Sulawesi Tengah diperkirakan akan terus melawan dan merekrut anggota baru meski pimpinan mereka sudah tiada.
Mereka yang kini berada di sekitar Sulawesi Tengah diperkirakan akan terus melawan dan merekrut anggota baru meski pimpinan mereka sudah tiada.
”Bisa jadi justru mereka akan semakin kuat. Sebab, jika mereka lemah, IS (Islamic State) sebagai pendukung utama akan menghentikan pasokan baik dana maupun amunisi yang dikirim lewat Filipina,” ungkap Nasir saat ditemui usai mengisi seminar tentang radikalisme di Hotel Grasia, Semarang, kemarin.
Menurut dia, tertembaknya Santoso ini justru menjadi pemicu anggota lain untuk balas dendam terutama kepada aparat keamanan.
Oleh sebab itu, Nasir menyarankan agar aparat lebih waspada setelah kejadian ini. ”Pimpinan mereka tertembak, tapi saya yakin kelompok ini tidak akan habis, karena akan muncul pimpinan baru dari salah satu anggota tersebut,” jelas Nasir yang kini menjadi pengamat terorisme.
Hal demikian juga diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengatakan, setelah Santoso tewas dalam Operasi Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7) lalu, bukan berarti masalah terorisme di dalam negeri selesai.
Oleh sebab itu, Nasir menyarankan agar aparat lebih waspada setelah kejadian ini. ”Pimpinan mereka tertembak, tapi saya yakin kelompok ini tidak akan habis, karena akan muncul pimpinan baru dari salah satu anggota tersebut,” jelas Nasir yang kini menjadi pengamat terorisme.
Hal demikian juga diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengatakan, setelah Santoso tewas dalam Operasi Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7) lalu, bukan berarti masalah terorisme di dalam negeri selesai.
”Di Jawa ada sendiri masalahnya, di NTB masih ada masalah sendiri juga. Ini jadi perhatian kami semua,” kata Luhut di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta.
Luhut juga menjelaskan, dalam melaksanakan operasi penumpasan teroris, aparat keamanan telah dibekali teknologi canggih. Namun, menurut Luhut, selain karena teknologi keberhasilan operasi tersebut juga didukung kekompakan pasukan gabungan Polri dan TNI.
Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan tugas mendesak yang harus dilakukan saat ini adalah menyisir seluruh wilayah Poso untuk menemukan anggota kelompok Santoso yang tersisa.
Program Deradikalisasi
Menurut dia, figur yang sangat berbahaya antara lain adalah Ali Karora yang berpotensi menggantikan peran Santoso. Namun dia mengatakan 18 orang lainnya juga patut diwaspadai, baik lakilaki maupun perempuan.
Ansyaad menegaskan, meski hanya satu orang yang bisa menggunakan senjata dan bisa meledakkan bom hal itu tak bisa dianggap sepele. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menuturkan, personelnya yang saat ini masih tergabung dalam Satgas Tinombala akan terus menjalankan operasi hingga masa tugasnya usai pada 6 Agustus.
Meski Santoso sudah tewas, bukan berarti kesiagaan anggotanya berkurang. ”Justru tidak mengendur tapi makin menguat,” kata Gatot dalam keterangan pers bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Palu, Sulawesi Tengah, usai melihat langsung jenazah dua teroris yang salah satunya adalah Santoso.
Gatot tidak akan menurunkan personel tambahan di Satgas Tinombala. Untuk perpanjangan waktu pengejaran kelompok teroris di Poso itu, ia mengembalikan kepada Polri karena Tinombala merupakan operasi Polri. Tak hanya tetap memberikan dukungan personel untuk Operasi Tinombala, TNI juga akan memberi peranan lebih.
Dengan melibatkan prajurit TNI setempat, di bawah pimpinan komandan Korem, TNI akan melakukan operasi teritorial di daerah Poso. Gatot juga mengatakan pihaknya akan memberikan penghargaan kepada sembilan anggotanya yang berhasil melumpuhkan Santoso dan anggota yang mendukung. ”Tim lain yang di belakang perlu ada perhatian juga,” ungkap Gatot.
Hanya saja, ia belum bisa memastikan penghargaan yang akan diberikan bagi masingmasing personel. Gatot menyatakan masih akan mempertimbangkan bentuk penghargaan untuk tiap-tiap prajuritnya yang bertugas dalam operasi penumpasan kelompok teroris di Poso tersebut. (SM, viva,dtc)
Luhut juga menjelaskan, dalam melaksanakan operasi penumpasan teroris, aparat keamanan telah dibekali teknologi canggih. Namun, menurut Luhut, selain karena teknologi keberhasilan operasi tersebut juga didukung kekompakan pasukan gabungan Polri dan TNI.
Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan tugas mendesak yang harus dilakukan saat ini adalah menyisir seluruh wilayah Poso untuk menemukan anggota kelompok Santoso yang tersisa.
Program Deradikalisasi
Menurut dia, figur yang sangat berbahaya antara lain adalah Ali Karora yang berpotensi menggantikan peran Santoso. Namun dia mengatakan 18 orang lainnya juga patut diwaspadai, baik lakilaki maupun perempuan.
Ansyaad menegaskan, meski hanya satu orang yang bisa menggunakan senjata dan bisa meledakkan bom hal itu tak bisa dianggap sepele. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menuturkan, personelnya yang saat ini masih tergabung dalam Satgas Tinombala akan terus menjalankan operasi hingga masa tugasnya usai pada 6 Agustus.
Meski Santoso sudah tewas, bukan berarti kesiagaan anggotanya berkurang. ”Justru tidak mengendur tapi makin menguat,” kata Gatot dalam keterangan pers bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Palu, Sulawesi Tengah, usai melihat langsung jenazah dua teroris yang salah satunya adalah Santoso.
Gatot tidak akan menurunkan personel tambahan di Satgas Tinombala. Untuk perpanjangan waktu pengejaran kelompok teroris di Poso itu, ia mengembalikan kepada Polri karena Tinombala merupakan operasi Polri. Tak hanya tetap memberikan dukungan personel untuk Operasi Tinombala, TNI juga akan memberi peranan lebih.
Dengan melibatkan prajurit TNI setempat, di bawah pimpinan komandan Korem, TNI akan melakukan operasi teritorial di daerah Poso. Gatot juga mengatakan pihaknya akan memberikan penghargaan kepada sembilan anggotanya yang berhasil melumpuhkan Santoso dan anggota yang mendukung. ”Tim lain yang di belakang perlu ada perhatian juga,” ungkap Gatot.
Hanya saja, ia belum bisa memastikan penghargaan yang akan diberikan bagi masingmasing personel. Gatot menyatakan masih akan mempertimbangkan bentuk penghargaan untuk tiap-tiap prajuritnya yang bertugas dalam operasi penumpasan kelompok teroris di Poso tersebut. (SM, viva,dtc)
Tag :
NEWS
