| TUNGGU JENAZAH : Kerabat menunggui jenazah terpidana mati Seck Osmane di Rumah Duka Saint Carolus, Jakarta. ( Foto : SM) |
SEMARANG – Badan Nasional Narkotika (BNN) meminta Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar membuktikan informasi yang diungkap terkait wawancaranya dengan Freddy Budiman, terpidana mati yang telah dieksekusi.
Dalam pengakuannya kepada Haris yang kemudian diunggah dan beredar luas di media sosial, Freddy menyebut dirinya selama beberapa tahun menyetorkan dana ratusan miliar rupiah kepada sejumlah pejabat BNN, Mabes Polri, dan Bea Cukai untuk mempermulus bisnis narkoba.
Kepala Humas BNN Kombes Slamet Pribadi mengatakan, Haris harus membuktikan tuduhan itu. ”Kami meminta orang yang mengatasnamakan Haris Azhar selaku penulis berita tersebut membuktikan yang diungkapkan Freddy Budiman dalam kesaksiannya.
BNN juga mendukung aparat penegak hukum mengusut tuntas kebenaran berita tersebut,” katanya dalam rilis yang diterima Suara Merdeka, kemarin. Jika terbukti ada pejabat BNN membantu Freddy, pihaknya akan menjatuhkan sanksi tegas dan keras.
”BNN tetap berkomitmen memberantas peredaran narkotika hingga ke akar-akarnya dan mendukung terciptanya aparat penegak hukum yang bersih,” imbuh Slamet. Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar bertemu Haris untuk mengonfirmasi pengakuan tersebut.
”Saya sudah tugaskan Kadiv Humas untuk bertemu Pak Haris secepat mungkin,” kata Tito di Mabes Polri, kemarin. Ia mengutarakan, dalam kabar yang beredar itu banyak istilah anggota Polri serta Badan Narkotika Nasional yang disebutkan oleh Freddy.
Dalam pengakuannya kepada Haris yang kemudian diunggah dan beredar luas di media sosial, Freddy menyebut dirinya selama beberapa tahun menyetorkan dana ratusan miliar rupiah kepada sejumlah pejabat BNN, Mabes Polri, dan Bea Cukai untuk mempermulus bisnis narkoba.
Kepala Humas BNN Kombes Slamet Pribadi mengatakan, Haris harus membuktikan tuduhan itu. ”Kami meminta orang yang mengatasnamakan Haris Azhar selaku penulis berita tersebut membuktikan yang diungkapkan Freddy Budiman dalam kesaksiannya.
BNN juga mendukung aparat penegak hukum mengusut tuntas kebenaran berita tersebut,” katanya dalam rilis yang diterima Suara Merdeka, kemarin. Jika terbukti ada pejabat BNN membantu Freddy, pihaknya akan menjatuhkan sanksi tegas dan keras.
”BNN tetap berkomitmen memberantas peredaran narkotika hingga ke akar-akarnya dan mendukung terciptanya aparat penegak hukum yang bersih,” imbuh Slamet. Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar bertemu Haris untuk mengonfirmasi pengakuan tersebut.
”Saya sudah tugaskan Kadiv Humas untuk bertemu Pak Haris secepat mungkin,” kata Tito di Mabes Polri, kemarin. Ia mengutarakan, dalam kabar yang beredar itu banyak istilah anggota Polri serta Badan Narkotika Nasional yang disebutkan oleh Freddy.
Namun, tak dijelaskan nama-nama mereka. Tito ingin agar Haris menjelaskan apakah Freddy menyinggung nama-nama tertentu saat berbincang dengannya. Menurut Tito, seandainya Haris memiliki bukti kuat, maka informasi itu bisa ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian. Namun jika tidak benar, bisa saja itu hanya usaha Freddy untuk menunda eksekusi.
Menanggapi pengakuan Freddy, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Bea Cukai Robert Marbun menegaskan, pihaknya selalu melakukan pengawasan ketat atas arus lalu lintas masuk barang. ”Pengawasan secara optimal itu termasuk terhadap narkotika,” jelas Robert.
Komisi III Mendalami
Dihubungi terpisah, Haris membenarkan pengakuan Freddy yang kini juga tersebar melalui pesan berantai itu. ”Itu memang benar adanya,” kata Haris via sms. Namun, dia enggan memberi penjelasan lebih lanjut. Berkait dengan pengakuan menghebohkan tersebut, terutama soal dugaan suap dalam jumlah besar kepada aparat, Komisi III DPR akan mendalami.
”Panja Penegakan Hukum Komisi III DPR akan mendalami pengakuan Freddy Budiman tersebut sebagaimana yang ditulis Haris,” kata Ketua Komisi III Bambang Soesatyo, kemarin. Menurut dia, pihaknya juga akan mendalami melalui pengacara dan kepala LP Nusakambangan, Sitinjak.
Hal ini karena pengacara dan kepala LP menjadi sumber informasi yang membenarkan pengakuan Freddy. ”Kami juga meminta Kepala BNN Budi Waseso memperhatikan pengakuan Freddy Budiman. Ini menghebohkan publik. Jika benar, ini skandal besar,” kata politikus Partai Golkar tersebut.
Menurut pengamat sosial politik dari Inded Arif Susanto, bila pengakuan Freddy benar, maka ini merupakan tragedi dalam penegakan hukum, terutama menyangkut pemberantasan narkoba. ”Bila benar, maka ini bencana besar, karena aparat yang seharusnya menyikat habis, malah terlibat habis,” kata dia. (sm, cnn,dtc)
Menanggapi pengakuan Freddy, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Bea Cukai Robert Marbun menegaskan, pihaknya selalu melakukan pengawasan ketat atas arus lalu lintas masuk barang. ”Pengawasan secara optimal itu termasuk terhadap narkotika,” jelas Robert.
Komisi III Mendalami
Dihubungi terpisah, Haris membenarkan pengakuan Freddy yang kini juga tersebar melalui pesan berantai itu. ”Itu memang benar adanya,” kata Haris via sms. Namun, dia enggan memberi penjelasan lebih lanjut. Berkait dengan pengakuan menghebohkan tersebut, terutama soal dugaan suap dalam jumlah besar kepada aparat, Komisi III DPR akan mendalami.
”Panja Penegakan Hukum Komisi III DPR akan mendalami pengakuan Freddy Budiman tersebut sebagaimana yang ditulis Haris,” kata Ketua Komisi III Bambang Soesatyo, kemarin. Menurut dia, pihaknya juga akan mendalami melalui pengacara dan kepala LP Nusakambangan, Sitinjak.
Hal ini karena pengacara dan kepala LP menjadi sumber informasi yang membenarkan pengakuan Freddy. ”Kami juga meminta Kepala BNN Budi Waseso memperhatikan pengakuan Freddy Budiman. Ini menghebohkan publik. Jika benar, ini skandal besar,” kata politikus Partai Golkar tersebut.
Menurut pengamat sosial politik dari Inded Arif Susanto, bila pengakuan Freddy benar, maka ini merupakan tragedi dalam penegakan hukum, terutama menyangkut pemberantasan narkoba. ”Bila benar, maka ini bencana besar, karena aparat yang seharusnya menyikat habis, malah terlibat habis,” kata dia. (sm, cnn,dtc)
Tag :
NEWS
