RADAR ACEH | Aceh, Harapan perobahan kearah kemajuan, adil, sejahtera dan bermertabat bagi seluruh masyarakat Aceh sebentar lagi akan terpundak kepada siapa yang akan terpilih dalam Pilkada Februari 2017.
Sekedar untuk diketahui, maju mundurnya suatu daerah akan sangat banyak dipengaruhi oleh siapakah pemegang kekuasaan.
Wilayah Aceh walau terlihat kecil tapi untuk mengelola dan mengurus Aceh tidaklah gampang. Butuh tenaga, fikiran, serta ruh ekstra yang mencakup, keberanian, cerdas dan siap menerima resiko. Siapapun yang akan memimpin Aceh nantinya pastilah akan menghadapi tantangan super rumit.
Diantara sekian banyak persolanan yang harus dilakukan nantinya bagaimana memperkecil pengangguran melalui tersedianya lapangan kerja, hasil Aceh bisa diolah di Aceh, prasarana jalan dan irigasi meningkatkan taraf hidup petani dan nelayan
Selain itu wilayah Aceh mulai dari Sabang hingga Aceh Tenggara dan Singkil dari Lhokseumawe
sampai Aceh Barat beragam tradisi dan budaya dalam masyarakat dan sangat kompleks. Tetapi, itu semua tak berarti bahwa kompleksitas tersebut tak bisa disederhanakan untuk di urai, dipilah dan di atasi .
Dalam hubungan ini tentu diperlukan pengetahuan serta pemahaman lebih luas dalam menjalankan roda pemerintahan. Barangkali terhadap kondisi Aceh saat ini, Pemimpim Aceh perlu mencontohi Umar bin Khattab Ra. Dimana untuk mendapatkan hasil luar biasa, perlu cara yang tak biasa.
Inilah nasehat bijak Umar bin Khattab.
Dan Umar pun mempraktekkan strategi ini dalam memerintah. Cara tak biasa yang dilakukan Umar pada masa pemerintahannya adalah menata pemerintahan dengan membentuk unit departemen (diwan), perwakilan, penempatan skill pada bidangnya dan nasihat ulama dan ureueng tuha yang sebelumnya tak pernah ada.
Cara yang tak biasa semacam inilah yang diperlukan untuk mengurai persoalan yang dihadapi rakyat Aceh sekarang ini. Seperti diketahui, Aceh terbagi dalam kabupaten/kota, kecamatan, mukim dan gampong. Pemimpin sebaiknya harus fokus kepada bagaimana memajukan dan memberdayakan wilayah. Pandangan sentris harus di kesampingkan. Apa yang dibutuhkan sebuah wilayah, kembalikan kepada wilayahnya masing masing.
Karena setiap daerah punya karakteristik, masalah dan potensi yang berbeda. Kepala daerah pasti sangat mengetahui apa masalah di daerahnya sekaligus potensi yang dimilikinya. Dan kita yakin semua kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat daerahnya masing masing semua cakap memimpin.
Pemimpin yang cakap selalu berpikir kepada kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Di Aceh ada banyak pemimpian yang cakap. Diantara para pemimpin daerah di Aceh yang sukses menjadikan daerahnya maju karena menggunakan cara-cara tak biasa tadi. Mulai dengan gaya kewirausahaan yang menekankan aspek pelayanan hingga penerapan teknologi informasi menjadi garda terdepan.
Mereka pemimpin yang egaliter dan tak berjarak dengan siapapun termasuk dengan rakyatnya. Tak alergi menerima masukan sekaligus kritikan dan kecaman. Mereka bergerak sendiri-sendiri dengan menjalin kerjasama dengan siapa saja yang membawa kepada keuntungan daerah.
Inisiasi yang inovatif serta keberanian dalam pengambilan keputusan merupakan sikap yang dimiliki oleh para pemimpin daerah tersebut. Mereka menemukan potensi daerahnya, menerapkan tata kelola pemerintahan yang bagus hingga berhasil menjual daerahnya jadi tujuan investor.
Mereka totalitas pikirannya dalam membangun daerah demi meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Suksesnya para kepala daerah memajukan daerahnya bisa jadi inspirasi buat gubernur dalam membangun Aceh ini secara keseluruhan. Pendekatan pembangunan yang selama ini
dari Banda Aceh ke daerah bisa di ubah sebaliknya. Pembangunan bisa dimulai dari daerah menuju Banda Aceh. Gubernur bersama timnya bisa mengawali pendekatan diatas dengan penerapan Model Pembangunan dari Daerah dengan mengumpulkan para kepala daerah kabupaten atau kotamadya
yang dinilai berhasil.
Pola seperti ini bisa di duplikasi dan dilakukan terhadap daerah yang lain yang minus sumber alamnya. Tim gubernur bisa memantau perkembangan pembangunan dari setiap daerah dalam setiap pertemuan tersebut. Bila gubernur fokus dengan pola pendekatan Model Pembangunan dari Daerah ini, tentu itu akan membawa dampak luar biasa terhadap kemajuan daerah.
Cara seperti ini mungkin tak di anggap canggih oleh para intelektual atau pakar ekonom lainnya. Namun, cara sederhana ini telah terbukti memajukan daerah seperti di Jawa dan Sulawesi. Barangkali studi banding anggota dewan dari seluruh Aceh tidak dibutuhkan lagi.
Kenapa anggota terhormat kita mesti susah-susah mencari contoh kedaerah lain yang harus menghabiskan anggaran milyaran rupiah kalau beberapa kabupaten atau kotamadya di Aceh ternyata ada yang berhasil mengatasi masalah didaerahnya sendiri dengan cara yang cerdas dan bijak.
Pemimpin di Aceh sudah saatnya coba menciptakan cara yang tak biasa untuk hasil luar biasa seperti yang pernah dilakukan Umar bin Khattap, Ra. Tak perlu malu belajar dalam menggapai kesuksesan untuk tujuan kemajuan. Selamat !. (Usman Cut Raja)
