Radar Aceh.com | Bireuen- Mujahidin Prang Sabilillah, Syahid di Prang, Prang sabilillah. Mujahidin, Prang sabilillah, Syahid di Prang, Prang sabi-sabilillah (teriakan masa referendum 8 November 1999 di Banda Aceh). Kemudian syair yang paling fenomental lagi,
"Referendum-referendum wajeb geutanyoe tuntut. Referendum-referendum wajeb geutanyoe tuntut. Aceh nyoe beujet droeteuh duk Raja. Beu sapukheun-beu sapukheun beusama ta tanggong djaweub. Beusapu kheun-beu sapukheun beusama ta tanggong djaweub. Bek le djipeu djeut lage njang ka-ka" begitu secarik lirik lagu Aceh yang fenomenal dinyanyikan oleh penyanyi lokal Ya'cob Tailah kala itu.
Ingatan tentang ketika Aceh Merdeka (AM) menemukan pendukung paling radikal. Bukan TNA, mereka adalah Mahasiswa/ Mahasiswi Aceh yang menempuh studi di berbagai Universitas di Aceh dan luar Aceh. Dengan jas almamater masing-masing Universitasnya seperti Aguswandi dengan kepalan tangan kirinya ke atas. Hampir tiap hari, anak-anak muda itu turun ke jalan, untuk meneriakkan referendum.
Jalan-jalan negara mereka cat dengan berbagai tulisan yang meminta Republik Indonesia untuk segera melaksanakan jajak pendapat di Aceh. "Kon Prang Nyang Kamoe Lake, Referendum Kamoe Peureule!"
Nostalgia yang memilukan bila teringat akan peristiwa dua juta jiwa rakyat Aceh yang tumpah ke ibukota Provinsi Aceh (red- Banda Aceh) kala itu.
Dukungan pun terus bermunculan paska deklarasi referendum. Namun seiring berjalannya waktu isu referendum pun redup dan digantikan dengan serangkaian kekerasan oleh militer dan GAM di Aceh.
Nyawa manusia tak ada harganya sama sekali. Para aktivis pun harus melarikan diri. Hingga referendum Aceh kemudian benar-benar dilupakan hingga Gempa dan Tsunami menimpa Aceh 26 Desember 2004 kelam yang membuka hati semua masyarakat Aceh untuk kembali menunaikan dan melaksanakan ikrar Lamteh yang ke dua yaitu MoU Helsinki.
Baru-baru ini isu referendum kembali di bicarakan mengingat keadaan Aceh saat ini benar-benar tidak seperti yang di harapkan. Polemik yang telah menimbulkan multi implikasi dari semua masyarakat Aceh harus di selesaikan secara damai dan demokratis.
Terlepas dari masalah Qanun Bendera, lambang, himne dan turunan UUPA yang lain mungkin Pusat masih belum bisa mempercayai Aceh Merdeka di dalam Bingkai NKRI, namun bila ketidak percayaan ini terus di biarkan tidak terpungkiri "Referendum Bukan Sekedar Wacana" (Azhari Cage Serambi, Jumat (27/10).
Rakyat Aceh sangat berkomitmen menjaga perdamaian Aceh ini seperti "Peunutoeh" Wali Neugara PYM Hasan Muhammad Di Tiro membisikkan ke telinga Wali Nanggroe Malek Mahmud Al Haytar. Namun dengan sifat dasarnya yang "kloe prip" tidak bisa jadi jaminan Aceh tidak akan bergejolak kembali.
Kita mengharapkan seluruh elemen masyarakat Aceh untuk mengenang jasa-jasa orang-orang yang telah mengembalikan marwah aceh kembali "bak mata donya" dan benar-benar menjaga perdamaian ini.
Bilamana harus di lakukan referendum kembali, lakukanlah secara damai dan demokratis. (Rls)
Rizki Wahyudi, Aktivis Mahasiswa dan Pegiat Sejarah Aceh. [Editor: SR]
Tag :
NEWS
